Senin, 15 Desember 2014

Mitos Matasiri yang Berkembang Di Kalangan Masyarakat Nelayan Desa Brondong Lamongan dan Sekitarnya



PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Brondong begitulah masyarakat sekitar menyebut desa saya. Berada tepat di Pantai utara Kabupaten Lamongan Jawa Timur, sebelah timur kecamatan Palang Tuban dan sebelah barat kecamatan Paciran Lamongan. Mayoritas masyarakat Brondong bermatapencarian sebagai nelayan, terdapat banyak pelabuhan di bagian utara desa saya namun yang terbesar adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Lamongan (Tempat Pelelangan Ikan). Di pelabuhan ini masyarakat nelayan Brondong menggantungkan nasibnya. Bukan hanya sebagai nelayan, masyarakat Brondong juga banyak yang menjadi kuli di pabrik-pabrik ikan milik asing. Belum banyak lapangan kerja milik masyarakat sendiri, sehingga dapat dikatakan jika masyarakat Brondong belum tercukupi dalam bidang lapangan pekerjaan.
Terdapat banyak tradisi lisan yang menyebar di desa saya, tradisi lisan yang akan tulis agar menjadi sejarah lokal yaitu Matasiri. Mata Siri adalah mitos yang beredar luas dikalangan masyarakat nelayan desa saya, matasiri merupakan nama penyakit yang sering diderita oleh para nelayan Brondong dan sekitarnya. Matasiri dianggap penyakit ghaib dan dapat merenggut nyawa. Alasan saya memilih matasiri sebagai materi untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah lokal adalah untuk meluruskan dan mengungkap mitos matasiri yang meluas dikalangan masyarakat nelayan desa saya, semoga ulasan saya bermanfaat bagi teman-teman untuk menambah pengetahuan.
B.      RUMUSAN MASALAH
1.       Bagaimana asal-usul mitos penyakit matasiri?
2.       Bagaimana unsur mistis matasiri?
3.       Bagaimana pandangan medis dan kebenaran tentang penyakit matasiri?
4.       Bagaimana pengaruh mitos dan kebenaran mata siri kepada masyarakat Brondong dan sekitarnya?

C.      TUJUAN
1.       Memenuhi tugas mata kuliah sejarah lokal.
2.       Mengetahui asal-usul mitos penyakit matasiri.
3.       Mengetahui unsur-unsur mistis penyakit matasiri.
4.       Mengetahui pandangan medis dan kebenaran tentang penyakit matasiri.
5.       Mengetahui pengaruh mitos dan kebenaran penyakit matasiri kepada masyarakat nelayan desa Brondong dan sekitarnya.

D.      METODE PENELITIAN
Penelitian tradisi lisa desa Brondong ini dilakukan dengan metode penelitian wawancara. Sumber wawancara saya adalah bapak Tulus, menantu tetua almarhum mbah Suwaji. Bapak Tulus pernah menjadi bela perahu yang berlayar ke perairan matasiri tahun 80-an.


PEMBAHASAN
1.       Bagaimana asal-usul mitos penyakit matasiri?
Tidak banyak orang yang mengetahui asal-usul mitos matasiri, namun menurut sumber yang saya terima dapat dijelaskan bahwa Matasiri adalah mitos berupa penyakit yang disebabkan oleh angin di perairan Matasiri Kecamatan Pulau Sembilan Kotabaru Kalimantan Selatan, berada di tengah-tengah pulau Kalimantan dan Jawa. Di perairan Matasiri memang terkenal sebagai daerah strategis untuk menangkap ikan.
Mitos yang terdengar dikalangan nelayan, Matasiri adalah nama seorang putri cantik pantai selatan Kalimantan, dia adalah anak kepala suku di daerah itu. Suatu ketika putri Matasiri bertemu dengan laki-laki nelayan dari daerah pulau Jawa, mereka saling mencintai dan terjadilah sesuatu yang tidak layak mereka lakukan sebelum menikah. Setelah sekian lama mereka berhubungan, laki-laki nelayan itu kembali berlayar dan berjanji akan kembali kepadanya.
Sampai akhirnya si putri mengandung anak laki-laki nelayan tersebut, sekian lama putri menunggu sang nelayan tak kunjung kembali tak terasa perut putri semakin membesar. Mengetahuinya, ayah sang putri yang merupakan kepala suku murka dan mengasingkan putri. Putri yang merasa tidak berharga lagi memutuskan untuk bunuh diri dan bersumpah, “jika ada laki-laki nelayan kemari (perairan Matasiri) dan ia tertidur, maka dia akan mati”.
Banyak pantangan yang ditujukan untuk para nelayan ketika berlayar di sana, mereka dilarang untuk tidur pagi antara pukul 08.00-12.00, berkata kotor atau apapun yang tidak bermanfaat, bersikap sombong. Dan bagi nelayan yang masih jejaka dilarang untuk ikut berlayar ke sana, karena bukan hanya sukmanya yang akan tertinggal namun raganya pun ikut hilang ditelan oleh bumi perairan matasiri. Namun menurut cerita di desa saya, masih banyak nelayan jejaka yang ke sana dan hilang tidak tau kemana perginya.
Menurut bapak Tulus, sumber wawancara saya mitos ini sudah beranak-akar dijiwa masyarakat desa saya. Namun demikian tak banyak orang yang mau membahas mitos ini karena dianggap pamali (larangan), hal ini menyebabkan minimnya sumber yang saya dapat melalui wawancara.
2.       Bagaimana unsur mistis matasiri?
Unsur mistis tentang matasiri adalah cerita orang yang nelayan kesana (perairan matasiri) sekembalinya dia dari berlayar, dia menjadi orang yang tidak berakal (linglung), matanya memutih, pucat, dll. Menurut teman-temannya yang seperahu dengannya selama mereka berlayar, dia tertidur pulas dan ketika bangun selang beberapa jam dia sudah dalam keadaan seperti itu.
Meskipun tidak masuk akal, namun tetua-tetua di desa saya menganggap kejadian ini disebabkan oleh kutukan sang putri. Tetua di desa saya percaya jika itu ulah sang putri matasiri karena ketika nelayan tersebut dibawa ke orang pintar (dukun), dia mengatakan bahwa sukma nelayan itu sudah tidak ada di dalam raganya, sukmanya ditarik roh ghaib yang ada di laut dan membiarkan raganya mati dengan sendirinya.
3.       Bagaimana pandangan medis dan kebenaran tentang mitos penyakit matasiri?
Menurut sumber yang saya dapat tentang pulau matasiri adalah pulau tersebut merupakan wilayah endemik malaria. Malaria di pulau matasiri tergolong malaria ganas, yaitu malaria jenis Falsiparum. Kabarnya masyarakat di pulau itu tidak menjalankan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), sehingga dapat dimungkinkan hal tersebut yang membuat perkembangbiakan nyamuk menjadi pesat.
Menurut pandangan medis, orang yang terkena penyakit matasiri dengan gejala-gejala yang telah disebutkan di atas mereka sebenarnya digigit nyamuk malaria ketika tidur di perairan matasiri. Nyamuk malaria banyak berkeliaran sekitar jam 08.00-12.00 pagi, gejala penyakit matasiri dengan malaria banyak ditemukan kesamaan. Contohnya demam (panas dan dingin), menggigil, nyeri persendian, sakit kepala, muntah-muntah dan kerusakan retina (retina yang memutih). Gejala paling khas dari penyakit malaria adalah badan terasa dingin yang kemudian diikuti dengan demam panas yang berlangsung sekitar empat sampai enam jam. Gejala penyakit malaria bisa sangat menyerupai beberapa gejala yang ditimbulkan oleh penyakit lain seperti tifus, dan demam berdarah, sehingga memerlukan tes darah di laboratorium untuk mengetahui kepastian adanya parasit plasmodium dalam darah.
Kebenaran mitos penyakit malaria, menurut saya sudah diungkap dan dijelaskan bahwa penyakit matasiri adalah mitos, cerita tentang kutukan putri matasiri merupakan cerita rakyat saja. Tentang larangan dan pantangan ketika berlayar ke sana dapat dirasionalkan memang disarankan tidak tidur pada jam-jam nyamuk malaria berkeliaran (08.00-12.00 pagi), kemudian untuk berkata kotor dan apapun yang tidak bermanfaat memang merupakan tindakan yang kurang baik menurut spiritual atau agama manapun.
4.       Bagaimana pengaruh mitos dan kebenaran mata siri kepada masyarakat Brondong dan sekitarnya?
Dulu ketika belum terungkap tentang kebenaran mitos penyakit matasiri, masyarakat nelayan Brondong merasa tidak leluasa mencari daerah untuk menangkap ikan, mitos tersebut membatasi ruang gerak para nelayan. Kebanyakan nelayan yang mengetahui tentang mitos ini berpikir lebih baik tidak melewatinya, mencari aman.
Masyarakat cenderung untuk menutup matanya agar tidak tergiur dengan apapun yang ada di sana, masyarakat takut jika selanjutnya dirinya adalah korban dari sang putri matasiri. Sehingga mitos ini menjadi momok yang sangat menakutkan dalam perjalanan nelayan untuk mencari ikan dan merauk untung yang banyak.
Namun setelah terungkapnya mitos tentang putri matasiri ini, masyarakat nelayan di desa saya berana dan bahkan menjadikan perairan matasiri tujuan mencari ikan. Masyarakat nelayan merasakan dampaknya dalam merauk keuntungan, disamping ikannya banyak daerah ini jauh dari ombak besar. Dengan pengetahuan yang telah mereka dapatkan tentang kasus ini, mereka lebih hati-hati dan berpikir positif tentang apa saja yang terjadi ketika mereka berlayar.

Efeknya sangat terasa pada nelayan-nelayan yang dulu tidak mengetahui, sekarang menjadi mengetahui. Banyak nelayan yang menambah penghasilannya sehingga dapat membuat perahu sendiri dan bela (anak buah kapal). Dengan bekal pengetahuan nelayan desa saya berangkat dengan tenang dan selalu berpikir positif.
KESIMPULAN
Penyakit matasiri hanya mitos, kebenarannya sudah diungkapkan dengan pengetahuan. Penyakit yang selama ini diduga matasiri atau kutukan seorang putri ternyata adalah penyakit malaria. Menarik kesimpulannya adalah bahwa segala sesuatu dapat dirasionalkan jika segala aspeknya dapat diamati, dapat dikaji, dan dihubungkan. Dengan pengetahuan, masyarakat nelayan dapat menemukan dan mengungkapkan kasus-kasus yang berbau irrasional menjadi sesuatu yang rasional. Semoga desa saya mengadakan pemberdayaan SDM, agar dapat memenuhi kebutuhan pengetahuan di masa yang mendatang.

PENUTUP
Demikian tradisi lisan yang beredar di desa saya, saya menerima segala bentuk saran yang bersifat membangun. Saya mengucapkan permintaan maaf dan semoga bermanfaat bagi teman-teman sekalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar