Biografi dan Pemikiran Islam
1. Riwayat Hidup Singkat Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan
memiliki nama kecil Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan setelah tiga saudaranya pada
1 Agustus 1868 (1285 Hijriah) di Kauman Yogyakarta dari keluarga berada, ayah
beliau bernama Kyai Haji Abu Bakar dan ibundanya Siti Aminah. Kyai Haji Abu
Bakar adalah khatib di Majid Agung Kesultanan Yogyakarta, sedangkan kakek dari
ibunya adalah penghulu besar di Yogyakarta. Beliau adalah generasi ke-12 dari
salah seorang walisongo yang terkemuka dalam mendakwahkan Islam di daerah
Gresik yang bernama Maulana Malik Ibrahim. Darwis dibesarkan di lingkungan
keagamaan yang sangat kuat, berpengaruh besar dalam hidupnya kelak.
2. Pengalaman pendidikan
Darwis belajar
mengaji sekitar tahun 1875 dan masuk pesantren. Pengetahuan yang dimiliki
sebagian besar merupakan hasil otodidaknya, kemampuan membaca dan menulisnya
diperoleh dari belajar kepada ayahnya, sahabatnya, saudaranya, dan iparnya.
Beliau dididik sendiri melalui cara pengajian yaitu dengan menirukan
kalimat-kalimat atau bacaan yang diajarkan oleh ayahnya.
Selama beliau
menuntut ilmu di Mekah tampaknya Tafsir al-Manar yang dikarang oleh Muhammad
Abduh mendapat perhatian serius dan yang paling disenanginya, tafsir ini
memberikan cahaya terang dalam hatinya serta membuka akalnya untuk berfikir
jauh kedepan tentang eksitensi Islam di
Indonesia yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah kolonial Belanda,
ketika ia belajar di Mekah itulah, mempunyai kesempatan baik untuk dapat
bertukar pikiran langsung dengan Rasyid Ridha, yang diperkenalkan KH Bakir. Ide
reformasi telah meresap dihatinya, dengan dasar ilmu-ilmu yang diperolehnya,
demikian pula pengalaman keagamaan yang beliau alami di Mekah, mendorong beliau
melakukan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum
Muslimin di tanah air.
Ketika pulang
kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan yang kelak
kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah.
Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun
di sana. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang
juga guru dari KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlotul Ulama. Pada tahun 1912,
Dahlan mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan
menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kyai yakni KH. Muhammad Shaleh dibidang
ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa); dari KH.
Raden Dahlan dibidang ilmu falak (astronomi); dari Kyai Mahfud dan Syekh KH.
Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock dibidang
ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan dibidang ilmu pengobatan dan racun
binatang.
3. Berdirinya dan Tujuan Muhammadiyah
Pada 18
Nopember 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah
untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan
ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut
tuntunan agama Islam. Beliau ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali
hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Sejak awal Dahlan telah
menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial
dan bergerak dibidang pendidikan.
Gagasan
pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik
dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Gagasan pembaharuan
Muhammadiyah disebarluaskan oleh Beliau dengan mengadakan tabligh ke berbagai
kota, disamping itu juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan
ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota
di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk
menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah semakin berkembang
hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan mengajukan
permohonan kepada pemerintah Hindia-Belanda untuk mendirikan cabang-cabang
Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah
Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Pada tahun 1909
dengan maksud mengajar agama, Ahmad Dahlan masuk Budi Utomo. Di sana beliau
memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang
diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota Budi Utomo sehingga para
anggota menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi
dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan
untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila
kyai pemimpinnya meninggal dunia. Saran itu kemudian ditindaklanjuti Ahmad Dahlan
dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama. Organisasi ini bergerak
dibidang kemasyarakatan dan pendidikan, melalui organisasi ini beliau berusaha
memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Muhammadiyah bertujuan
untuk memperbaharui pemahaman keagamaan di sebagian besar dunia Islam saat itu
yang masih bersifat ortodoks. Pendirian Ahmad Dahlan mengenai pentingnya
organisasi bagi pelaksanaan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, memang mutlak
meskipun dalam hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan. Ada
tujuan yang tidak dapat sampai kepada tujuan yang dicita-citakan, hal ini di
sebabkan sarana itu tidak tepat atau kurang sesuai dengan tuntutan kemajuan
zaman dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
4. Pemikiran tentang Islam
Ada beberapa
faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong Ahmad Dahlan mendirikan
organisasi Muhammadiyah:
Yang merupakan faktor intern
adalah:
·
Kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an
dan Hadits.
·
Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup
dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
·
Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan
tidak adanya organisasi Islam yang kuat
Ahmad Dahlan semakin
meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang
terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada
perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu
pembaruan ajaran agama (mushlih) pasti menimbulkan gejolak dan mempunyai
risiko. Dengan kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban yang
diajarkannya.
Tujuan mulia
terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah
dan usaha yang ditempuh beliau dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu
adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang
lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa
Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda
yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Dahlan. Dalam perkembangannya,
Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa Islam terbesar di
Indonesia.
5. Pemikirannya Tentang Pendidikan
Metode yang
ditawarkan KH. Ahmad Dahlan merupakan sintesis antara metode pendidikan Belanda
dengan metode pendidikan tradisional. Amal usaha Muhammadiyah merupakan
refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan
keagamaan. Istilah pendidikan di sini dipergunakan dalam konteks yang luas
tidak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang
dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai
dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi muda, dalam konteks
ini termasuk dalam pengertian pendidikan adalah kegiatan pengajian, tabligh dan
sejenisnya.
Adapun tujuan
pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan yaitu membentuk manusia yang:
·
Alim dalam ilmu agama
·
Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan
umum
·
Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dalam
menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat.
Rumusan tujuan
pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan pesantren yang
hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang salih dan mendalami ilmu agama.
Di dalam system pendidikan pesantren tidak diajarkan sama sekali pelajaran dan
pengetahuan umum serta menggunakan tulisan latin. Semua kitab dan tulisan yang
diajarkan menggunakan bahasa dan tulisan Arab. Sebaliknya, pendidikan sekolah
model Belanda merupakan pendidikan “sekuler” yang di dalamnya tidak diajarkan
ilmu agama sama sekali. Pelajaran di sekolah ini menggunakan huruf latin.
Akibat dualisme pendidikan tersebut dilahirkan dua kutub inteligensia; lulusan
pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan lulusan
sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat
ketimpangan itu KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang
sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu
umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi beliau keduanya
tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Di bidang
pendidikan, Ahmad Dahlan mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu,
Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan
umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S.
met de Qur'an. Sebaliknya, beliau juga memasukkan pelajaran agama pada
sekolah-sekolah umum. Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah.
Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid,
langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.
6. Kekhasan pemikirannya
Segi menarik
yang lain dari sekolah Muhammadaiyah, pemisahan Bahasa Arab sebagai mata
pelajaran yang berdiri sendiri merupakan langkah yang menentukan dalam
pandangan kaum pembaharu. Di pondok pesantren, bahasa Arab diajarkan sebagai
bagian membaca Al-Qur’an. Setelah mempelajari huruf Arab dan cara pengucapan,
ayat-ayat Al-Qur’an dipelajari secara urut, dan tafsir ayat-ayat tertentu
diberikan dalam bahasa Jawa. Tidak ada pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa.
Sekolah Muhammadiyah mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yanga
berdiri sendiri. Ini telah dicoba sebagai pembaruan dalam mempelajari Al-Qur’an
dikalangan masyarakat Jawa di Mekah akhir abad ke-19, ketika Snouck Hurgronje
tinggal di sana (Hurgronje, 1931: 267).
Dengan sistem
pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi
bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum
atau yang berilmu agama saja. Gerakan pembaruan Ahmad Dahlan, yang berbeda
dengan masyarakat zamannya mempunyai landasan yang kuat, baik dari keilmuan
maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang
berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai
dengan akal sehat.
Sumber Rujukan
- http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan- http://www.pendongeng.com/biografi-tokoh-indonesia/528-biografi-kh-ahmad-dahlan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar