Senin, 15 Desember 2014

Kyai Haji Ahmad Dahlan



Biografi dan Pemikiran Islam
1.       Riwayat Hidup Singkat Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan memiliki nama kecil Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan setelah tiga saudaranya pada 1 Agustus 1868 (1285 Hijriah) di Kauman Yogyakarta dari keluarga berada, ayah beliau bernama Kyai Haji Abu Bakar dan ibundanya Siti Aminah. Kyai Haji Abu Bakar adalah khatib di Majid Agung Kesultanan Yogyakarta, sedangkan kakek dari ibunya adalah penghulu besar di Yogyakarta. Beliau adalah generasi ke-12 dari salah seorang walisongo yang terkemuka dalam mendakwahkan Islam di daerah Gresik yang bernama Maulana Malik Ibrahim. Darwis dibesarkan di lingkungan keagamaan yang sangat kuat, berpengaruh besar dalam hidupnya kelak.
2.       Pengalaman pendidikan
Darwis belajar mengaji sekitar tahun 1875 dan masuk pesantren. Pengetahuan yang dimiliki sebagian besar merupakan hasil otodidaknya, kemampuan membaca dan menulisnya diperoleh dari belajar kepada ayahnya, sahabatnya, saudaranya, dan iparnya. Beliau dididik sendiri melalui cara pengajian yaitu dengan menirukan kalimat-kalimat atau bacaan yang diajarkan oleh ayahnya.
Selama beliau menuntut ilmu di Mekah tampaknya Tafsir al-Manar yang dikarang oleh Muhammad Abduh mendapat perhatian serius dan yang paling disenanginya, tafsir ini memberikan cahaya terang dalam hatinya serta membuka akalnya untuk berfikir jauh kedepan tentang eksitensi  Islam di Indonesia yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah kolonial Belanda, ketika ia belajar di Mekah itulah, mempunyai kesempatan baik untuk dapat bertukar pikiran langsung dengan Rasyid Ridha, yang diperkenalkan KH Bakir. Ide reformasi telah meresap dihatinya, dengan dasar ilmu-ilmu yang diperolehnya, demikian pula pengalaman keagamaan yang beliau alami di Mekah, mendorong beliau melakukan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum Muslimin di tanah air.
Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah. Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun di sana. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlotul Ulama. Pada tahun 1912, Dahlan mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kyai yakni KH. Muhammad Shaleh dibidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa); dari KH. Raden Dahlan dibidang ilmu falak (astronomi); dari Kyai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock dibidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan dibidang ilmu pengobatan dan racun binatang.
3.       Berdirinya dan Tujuan Muhammadiyah
Pada 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Beliau ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak dibidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Beliau dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping itu juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah semakin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia-Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Pada tahun 1909 dengan maksud mengajar agama, Ahmad Dahlan masuk Budi Utomo. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota Budi Utomo sehingga para anggota menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kyai pemimpinnya meninggal dunia. Saran itu kemudian ditindaklanjuti Ahmad Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama. Organisasi ini bergerak dibidang kemasyarakatan dan pendidikan, melalui organisasi ini beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Muhammadiyah bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks. Pendirian Ahmad Dahlan mengenai pentingnya organisasi bagi pelaksanaan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, memang mutlak meskipun dalam hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan. Ada tujuan yang tidak dapat sampai kepada tujuan yang dicita-citakan, hal ini di sebabkan sarana itu tidak tepat atau kurang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

4.       Pemikiran tentang Islam
Ada beberapa faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah:
Yang merupakan faktor intern adalah:
·         Kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.
·         Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
·         Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat
Ahmad Dahlan semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu pembaruan ajaran agama (mushlih) pasti menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko. Dengan kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban yang diajarkannya.
Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh beliau dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Dahlan. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.
5.       Pemikirannya Tentang Pendidikan
Metode yang ditawarkan KH. Ahmad Dahlan merupakan sintesis antara metode pendidikan Belanda dengan metode pendidikan tradisional. Amal usaha Muhammadiyah merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Istilah pendidikan di sini dipergunakan dalam konteks yang luas tidak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi muda, dalam konteks ini termasuk dalam pengertian pendidikan adalah kegiatan pengajian, tabligh dan sejenisnya.
Adapun tujuan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan yaitu membentuk manusia yang:
·         Alim dalam ilmu agama
·         Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan umum
·         Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dalam menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat.
Rumusan tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan pesantren yang hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang salih dan mendalami ilmu agama. Di dalam system pendidikan pesantren tidak diajarkan sama sekali pelajaran dan pengetahuan umum serta menggunakan tulisan latin. Semua kitab dan tulisan yang diajarkan menggunakan bahasa dan tulisan Arab. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan “sekuler” yang di dalamnya tidak diajarkan ilmu agama sama sekali. Pelajaran di sekolah ini menggunakan huruf latin. Akibat dualisme pendidikan tersebut dilahirkan dua kutub inteligensia; lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan lulusan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan itu KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi beliau keduanya tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Di bidang pendidikan, Ahmad Dahlan mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu, Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau juga memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.
6.       Kekhasan pemikirannya
Segi menarik yang lain dari sekolah Muhammadaiyah, pemisahan Bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri merupakan langkah yang menentukan dalam pandangan kaum pembaharu. Di pondok pesantren, bahasa Arab diajarkan sebagai bagian membaca Al-Qur’an. Setelah mempelajari huruf Arab dan cara pengucapan, ayat-ayat Al-Qur’an dipelajari secara urut, dan tafsir ayat-ayat tertentu diberikan dalam bahasa Jawa. Tidak ada pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa. Sekolah Muhammadiyah mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yanga berdiri sendiri. Ini telah dicoba sebagai pembaruan dalam mempelajari Al-Qur’an dikalangan masyarakat Jawa di Mekah akhir abad ke-19, ketika Snouck Hurgronje tinggal di sana (Hurgronje, 1931: 267).
Dengan sistem pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau yang berilmu agama saja. Gerakan pembaruan Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunyai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat.
Sumber Rujukan             
- http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan
- http://www.pendongeng.com/biografi-tokoh-indonesia/528-biografi-kh-ahmad-dahlan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar