Rabu, 03 Februari 2016

Museum Malang Tempo Doeloe


Museum kota Malang tempo doeloe terletak di jalan Gajahmada nomor 2 Malang, tepat dibelakang balai kota Malang. Museum ini dibangun sejak tahun 1996 oleh bapak Dwi Cahyono dan diresmikan pada tanggal 22 Oktober 2012. Walaupun tergolong baru, namun museum ini tergolong terkenal dikalangan mahasiswa sejarah. Museum kota Malang tempo doeloe adalah museum yang mengusung konsep sejarah local. Isinya tentang apapun yang pernah terjadi di Malang, mulai dari jaman praaksara hingga kembali ke Malang yang sekarang.
 
1.      Peninggalan arsip atau dokumen pada Museum Malang Tempu Doeloe
Pada Museum ini sedikit keberadaan arsip maupun dokumen yang di pamerkan, dari dokumen-dokumen penting yang terdapat di museum ini kami lebih tertarik dengan dokumentasi-dokumentasi gambar pada masa awal kota Malang. Terdapat banyak gambar mengenai kota Malang sebelum dan sesudah kedatangan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Setiap ruangan keruangan lain memberikan kesan perkembangan yang terjadi di Malang khususnya dalam aspek pemerintahan.
Jika diwajibkan untuk menyertakan arsip atau dokumen penting, maka kami akan menunjukkan staadblad pemerintah Hindia Belanda dalam upaya pembangunan kota Malang dan perubahan nama-nama daerah di Malang. Kemudian kumpulan buku-buku yang tersusun di dalam lemari kayu di ruangan transisi antara pendudukan Jepang dengan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Buku-buku itu menjadi investasi yang luar biasa bagi generasi selanjutnya. Salah-satu buku tersebut adalah buku sastera karangan pengarang periode Pujangga Baru.

2.      Model dan bentuk bangunan Museum Kota Malang Tempo Doeloe
Museum kota Malang Tempo Doeloe memiliki nuansa tersendiri dibandingkan dengan museum-museum pada umumnya. Desain museum memiliki konsep modern, keunikannya terletak pada tata ruang yang dibagi sesuai periode waktu. Pembagian periode waktu disesuaikan dengan urutan sejarah dari kota Malang.
Pertama, adalah jaman purbakala yang berlangsung sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Terdapat banyak hasil ekskavasi benda-benda purbakala sebagai jejak-jejak kehidupan manusia purba. Malang adalah kota yang dihimpit oleh beberapa gunung yaitu gunung Bromo, Semeru, Kelud dan Arjuno sehingga Malang merupakan suatu kawah atau danau yang sering dialiri oleh larva dari gunung-gunung tersebut. Sesuai dengan keadaannya Malang dikenal sebagai daerah subur.
Hasil-hasil ekskavasi purbakala yang menarik perhatian kami adalah tanduk kerbau purba, dapat dilogika sebesar apa kerbau purba tersebut. Kemudian fosil kerang yang ditemukan di gunung Kawi. Ini membuktikan bahwa dulu Malang adalah sebuah danau purba yang amat besar dan mengeringkan. Hal ini disesuaikan dengan ditemukannya banyak sumber air yang masih mengalir, misalnya pemandian Ken Dedes.
Memasuki lorong berikutnya kami merasa dibawa kembali ke jaman kerajaan-kerajaan yang Berjaya di Malang, seperti kerajaan Kanjuruhan, Singosari, dan Kediri. Pertama kami menjumpai kolam yang dilengkapi dengan beberapa arca nandhi, ganesha, jaladwara, dan patung lilin Mpu Barada utusan Prabu Erlangga untuk mengairi sungai Brantas. Didepan kolam terdapat ilustrasi gua tempat bertapa Ken Arok. Ilustrasi cukup menggambarkan kondisi Malang pada masa itu. Masuk kelorong selanjutnya masih berhubungan dengan kerajaan-kerajaan di Malang, dimana terdapat patung lilin Ken Dedes dan Tunggul Ametung.
Kami masuk pada Periode ketiga Museum Malang Tempo Doeloe, bagian ini berupa lorong yang dinding-dindingnya dipenuhi oleh gambar walikota Malang yang pernah menjabat sejak jaman Belanda sampai sekarang. Selain gambar walikota, juga terdapat gambar bupati yang pernah menjabat di kota Malang. Keluar dari lorong kami menemukan diorama yang menggambarkan pemerintahan jaman dahulu lengkapi dengan perhiasan dan koleksi kuningan. Pada tahun 1767 Belanda datang dan mendirikan benteng di Malang, sekarang menjadi Rumah Sakit Saipul Anwar. Pada tahun 1821 dipusatkan disekitar kali Brantas. Pada tahun 1883, Belanda membagi kota Malang menjadi beberapa distrik dan membangun tata kota juga merapikan nama-nama kota.
Keberadaan Belanda memiliki dampak yang signifikan dalam pembangunan kota. Pemerintah colonial melakukan pembangunan gedung-gedung, salah satunya adalah perumahan Ijen yang menjadi kompleks kediaman orang-orang Belanda yang bergaya arsitektur Kolonial. Pada perumahan Ijen terdapat gereja Katedral, pemerintah kolonial bahkan melihat potensi kota Malang sebagai kota wisata, dengan membangun bangunan-bangunan pendukung wisata, misalnya di Selecta sekarang. Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia, kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda terutama ketika mulai dioperasikannya jalan kereta api pada tahun 1897, sehingga kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Ini dibuktikan dengan dokumentasi yang memenuhi dinding-dinding lorong.
Munculnya pembangunan di daerah-daerah menyebabkan terjadinya perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi perumahan dan industri. Kota Malang diresmikan menjadi kota madya oleh pemerintah kolonial pada 1 April 1914 melalui staadblad no. 297 dikepalai oleh seorang walikota. Pada tanggal 25 September 1915, Gubernur Jendral Idenburg membentuk panitia pembangunan industri di Hindia Belanda (Commissie voor de Ontwikkeling der Fabrieknijverhaid Nederlandsch-Indie). Di kota Malang pemerintah kolonial membangun industri pabrik gula karena melimpahnya hasil tebu.
Melangkah ke periode selanjutnya yaitu periode Jepang, diruang tersebut bendera Jepang terpasang dimana-mana, ini menandakan Jepang telah menguasai Indonesia dan menggeser kedudukan Belanda. Ditempat tersebut terdapat penjara yang digunakan untuk menahan orang-orang Belanda lengkap dengan borgol yang beratnya luar biasa. Hal tersebut menggambarkan betapa sengsaranya para tahan Belanda pada masa itu.
Jepang yang berhasil menguasai Indonesia mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara berbasis kemiliteran, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa organisasi militer yang dibentuk oleh pemerintah Jepang. Dengan didirikannya beberapa organisasi berbasis militer menjadikan bangsa Indonesia menjadi sengsara karena mereka diwajibkan mengikuti kegiatan militer dan pendidikan mengalami kemunduran. Hal ini dibuktikan dengan adanya diorama proses pengajaran tentang terjadinya kesenjangan antara pribumi dan bangsa Jepang.
Pada ruang berikutnya terdapat diorama KNIP, berdiri patung lilin Soekarno dan anggota rapat lainnya. Diruangan ini juga terdapat alat ketik, alat cetak, dan fotokopi yang digunakan untuk mencetak surat kabar yang digunakan pada waktu itu. Melankah ke ruangan selanjutnya adalah dibumi hanguskannya kota Malang oleh Jepang untuk mengilangkan pengaruh pemerintah colonial Hindia Belanda sebelum kedatangan Jepang. Terdapat sisa-sisa kebakaran yang disebabkan oleh penghangusan segala sesuatu yang pernah di bangun oleh Belanda. Sejak saat itu Malang harus membangun kembali kotanya demi bertahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selanjutnya adalah ruangan yang di desain khusus untuk mengenang sosok presiden pertama kita yaitu Soekarno. Terdapat patung lilin Soekarno yang berukuran besar, penggambarannya yaitu sikap tegap dan karismatik. Kemudian juga disertai dengan dokumentasi gambar soekarno pada masa pemerintahannya. Di ruang tersebut juga terdapat banyak alat-alat kesenian, misalnya alat music dan lemari kayu yang penuh dengan tumpukan buku-buku sastera maupun pendidikan.
Melanjutkan perjalanan keperiode selanjutnya, kami dibawa kembali pada Malang yang sekarang, terdapat diorama pasar pada masa Malang setelah kemerdekaan juga banyak perlengkapan kesenian seperti topen, kebaya, alat music, dan lain sebagainya. Setiap bulan Mei diperingati dengan acara ulang tahun Kota Malang, terdapat banyak perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Malang dalam menyambut pesta ulang tahun kota.
Suasana museum tidak terasa membosankan dan menyeramkan seperti umumnya museum. Setelah kami berjelajah dimuseum kami seolah-olah kembali pada setiap zaman dan tentunya kami merasa kagum dengan tata ruang yang diatur sedemikian rupa yang menurut kami sangat menarik. Museum ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari museum-musium yang lain.

3.      Keterkaitan Museum Malang Tempo Doeloe dengan mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia 1900-1940 jaman Kebangkitan Nasional dan masa Hindia Belanda
Museum Kota Malang Tempo Doeloe yang diresmikan pada tanggal 22 Oktober 2012 membuktikan sikap nasionalisme Bapak Dwi Cahyono yang begitu peduli dengan penemuan-penemuan pada masa Kerajaan Majapahit yang berserakan tak terurus. Kecintaannya terhadap Malang mendorongnya untuk membangun suatu tempat yang berisi sejarah Malang dan kepeduliannya terhadap pemuda Indonesia yang tidak begitu suka atau berminat berkunjung ke Museum untuk mempelajari sejarah yang ada di Indonesia.
Dengan usaha bapak Dwi Cahyono dalam menarik simpati pemuda terhadap sejarah local Malang, Bapak Dwi Cahyono berharap bahwa pemuda sebagai generasi pelurus Mampu menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air, hal tersebut dapat tumbuh dengan menyaksikan diorama yang menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia pada masa lalu, khususnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Keterkaitan objek ini dengan mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia 1900-1940 adalah ide yang mendorong bapak Dwi untuk membangun dan mau membiayai museum tersebut untuk melindungi peninggalan sejarah, terlebih di kota Malang. Kemudian digambarkannya kondisi Malang pada masa pendudukan pemerintahan Hindia Belanda yang melalukan banyak pembangunan dan meninggalkan pengaruhnya bagi pemerintahan di Indonesia, khususnya di kota Malang.

4.      Dimensional Museum Malang Tempo Doeloe
Aspek yang paling menonjol dalam konsep pembangunan Museum ini adalah berdasarkan kekuasaan politik dan kehidupan sosial. Pembagian periode jaman berlangsung sesuai dengan urutan pemerintahan yang ada di Malang. Mulai dari kerajaan, pemerintahan colonial Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga pada proklamasi dan berlanjut pada kota Malang sekarang.
Selain itu diorama kehidupan sosial pada setiap periode digambarkan betul-betul mendekati dengan kondisi sebenarnya. Hal ini membantu pengunjung khususnya mahasiswa sejarah dapat melakukan interpretasi melalui penggambaran tersebut. Museum ini memiliki citarasa yang kuat sehingga mampu membawa kita kembali ke masa-masa yang telah lampau tanpa mengesampingkan keindahannya.

5.      Simpulan
Museum Malang Tempo Doeloe merupakan salah satu museum yang sangat penting dikunjung karena museum ini tidak hanya menampilkan tata ruang yang berbeda tetapi museum ini sangat membantu mahasiswa maupun para pelajar untuk mempelajari sejarah berdirinya kota Malang dan hasil dari penemuan-penemuan pada masa purba. Walaupun bersifat lokal tetapi dapat merekrontruksi pengetahuan secara holistik.
Melalui diorama yang disajikan, maka seseorang akan mudah menggambarkan suasana pada masa itu juga mendorong sikap nasionalisme dan rasa memiliki sehingga seseorang tersebut akan cenderung menjaga dan melestarikannya. Isi dari museum ini mampu membuat kami berpikir bagaimana proses sebuah ide atau gagasan mempengaruhi tindak seseorang dalam mencapai sesuatu.
Saran dari kami adalah sebaiknya pihak museum harus menyediakan tour guide yang lebih memahami setiap peristiwa sejarah yang ditampilkan melalui diorama di museum. Sehingga para pengunjung benar-benar paham akan setiap peristiwa sejarah yang ditampilkan melalui diorama tersebut.

6.      Daftar Rujukan
Asyiknya Menelusuri Museum Malang Tempo Doeloe, 2013, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.09 WIB (http://laurentiadewi.com)
Museum Malang Tempo Doeloe, 2012, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.30 WIB (http://wikipedia.com)
Berkunjung Museum Malang Tempo Doeloe, 2014, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.55 WIB (http://www.pegipegi.com)

Menganalisis Jurnal


Judul : Dinamika Masyarakat Jepang Dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II
Penulis : Eman Suherman
Tahun : 2004
Jurnal/Vol/No : Jurnal Humaniora/16/2

1.      Sinopsis
Judul   : Dinamika Masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II
Latar belakang ditulisnya penelitian ini adalah untuk mengungkapkan proses panjang bagaimana proses penting masyarakat Jepang yang tradisional menjadi masyarakat yang modern. Jepang dikagumi dan diherankan oleh Negara-negara lain karena dalam waktu yang relatif singkat dapat menjadi Negara yang memiliki penduduk dengan kedisiplinan tinggi, maju, dan kaya. Dalam waktu kurang lebih satu abad, Jepang sebagai Negara miskin akan sumber daya alam, di dalam negeri penuh dengan kekacauan, terisolasi dengan dunia luar kurang lebih selama dua abad, dapat disejajarkan bahkan dalam bidang ekonomi melebihi Negara-negara maju. Masyarakat Jepang modern tidak akan lahir apabila tidak ada satu proses yang sangat penting, terjadi pada masa sebelum Meiji yaitu masa Edo Bakufu.
Penelitian ini akan menguraikan tentang dinamika masyarakat Jepang dimulai dari masa Edo Bakufu (1603-1867), karena pada masa ini menjadi landasan Jepang menuju ke masyarakat Jepang modern. Jaman Tokugawa Bakufu yang lebih dikenal dengan masa Edo, menjadi akar sukses mengantarkan Jepang dalam modernisasi. Jika diadakan penelitian mengenai keberhasilan Jepang membangun negaranya, kurang tepat jika menelitinya dimulai dari masa Meiji tanpa melakukan pertimbangan dengan masa sebelumnya yaitu masa Edo. Setelah jaman Edo, dipaparkan masyarakat Jepang pada masa Meiji (1868-1912), masa Taisho (1912-1925), dan masa Showa (1925-1989). Pada masa tersebut akan dijelaskan mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik.
a.      Kondisi masyarakat Jepang masa Edo
Jepang terdiri atas empat kelas masyarakat, yaitu kelas Militer atau Samurai, petani, tukang, dan pedagang. Selain keempat kelas tersebut, ada kelas lain yaitu kelas bangsawan (kuge), kelas ini tidak dimasukkan klasifikasi sosial karena dari sisi kekuasaan, mereka tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Kekuasaan pada masa ini adalah para Buke yang terdiri dari pada Shogun dan Daimyo, kaum samurai bukan hanya sebagai militer namun juga bekerja pada administrasi pemerintahan. Kaum yang paling menderita adalah para petani karena diadakannya kebijakan Sankunkotai yaitu pajak uang untuk menggantikan beras. Disisi lain kebijakan tersebut membuat para pedagang semakin memperlihatkan peningkatan dalam segi perekonomian. Kaum pedagang menguasai perdagangan yang berdampak pengaruhnya dimasyarakat semakin kuat.
Nilai positif dari dikeluarkannya kebijakan Sankunkotai adalah terjadinya dinamika kehidupan masyarakat Jepang, transportasi semakin maju dan perdagang semakin memegang pengaruhnya, ini menyebabkan banyak orang kaya di dalam masyarakat Jepang. Dari keadaan yang kondisif tersebut, maka hal ini berdampak dalam beberapa sektor yaitu pembangunan pasar nasional, perbaikan dalam komunikasi, majunya pendidikan, dan perekonomian. Hal ini yang menunjang lahirnya masa Restorasi Meiji.
b.      Kondisi masyarakat Jepang masa Meiji
Keruntuhan Tokugawa disebabkan oleh krisis politik, ekonomi, dan kepemimpinan yang disebabkan ketidakberdayaan pemerintah mempertahankan dan menjaga keamanan dari tekanan asing, terutama dari Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinan Komondor Perry memaksa Jepang membuka diri terhadap dunia luar. Pada tahun 1868, kaum ningrat militer mengambil alih kekuasaan yang melancarkan program revolusioner yang dikenal dengan Restorasi meiji.
Pada masa meiji, masyarakat menyambut tantangan Barat dengan menghancurkan struktur lama dan menegakkan tatanan politik dan sosial baru yang diilhami oleh pihak peradaban Barat. Jepang telah melampaui suatu masa peralihan dari negeri yang sejak dulu agraris menjadi suatu negeri yang mendekati ekonomi industri. Sejak awal jaman Meiji, pertanian merupakan pekerjaan hampir 80% penduduk Jepang. Selain itu penduduk Jepang semakin meningkat seiring  dihapuskannya kebijakan Larangan Pertambahan penduduk pada masa Tokugawa.
Selain itu juga dihapuskannya kebijakan pengelompokkan yang terdiri dari empat kelas, perkembangan selanjutnya diterapkan system tiga kelas yaitu kelas bangsawan (kazoku), samurai (shizoku), dan rakyat biasa (Heemin). Namun jarak ketiga kelas ini lambat laun tidak terlihat karena terjadinya pernikahan antarkelas seperti yang dilarang oleh masa kekuasaan Tokugawa.
c.       Kondisi masyarakat Jepang masa Taisho
Kaisar Taisho naik tahta, masa industralisasi berarti pembentukan kota-kota industri baru yang menyebabkan terjadinya konsentrasi penduduk ke kota-kota. Selain itu juga pertumbuhan penduduk semakin meningkat, namun jumlah kaum petani tidak bertambah, hal ini disebabkan karena mereka lebih tertarik kepada industri yang ada di kota-kota. Penghapusan hierarki status prajurit, tukang, dan pedagang pada masa Meiji membawa dampak terbukanya saluran baru untuk mobilitas sosial. Kekuasaan di bawah kapitalis kaya, para pemilik tanah yang luas, politikus, dan pejabat. Kedudukan mereka kuat karena mendapat dukungan dari sistem kekaisaran.
Menjelang perang dunia I, penguasa melancarkan program indokrinasi masa sebelum perang  dengan membentuk imperialise dalam system kekaisaran. Hal ini membuat kaum rendah semakin menderita, namun setelah melibatkan diri pada perang dunia I dan dipihak yang menang, Jepang mendapatkan pengaruh yang kuat di pasar Asia. Seiring keberhasilan tersebut, ide-ide Barat masuk ke Jepang. Kehidupan masyarakat Jepang semakin makmur dalam bidang industri dan ekonomi, selain itu juga pendidikan semakin berkembang dengan adanya 34 Universitas, 29 Sekolah Menengah Atas, 84 Sekolah Profesional, dan banyak sekolah menengah pertama yang semakin bertambah di setiap tahunnya. Dengan data ini, dapat dikatakan bahwa Jepang pada tahun 1920-an sudah banyak menikmati pendidikan. Sehingga akan menghasilkan sumberdaya manusia yang berpendidikan dan berkualitas.
d.      Kondisi masyarakat Jepang masa Showa
Kaisar Hirohito diangkat untuk menggantikan kaisar Taisho, ia dianggap kaisar yang berkuasa paling lama yaitu 62 tahun. Di bawah kekuasaannya Jepang mengalami pasang surut, kekalahan Jepang pada perang dunia II membuat masyarakat kecewa dan depresi. Setelah Jepang menyerah terhadap sekutu, tentara Amerika Serikat menduduki Jepang dan membuat Undang-undang baru, yaitu bahwa kaisar hanya sebagai lambing kesatuan Negara. Jepang juga dilarang mendirikan angkatan perang, namun diperbolehkan jika hanya sebagai pertahanan.
e.       Kondisi sebelum perang dunia II
Jepang mengalami kegoncangan seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi, ditambah dengan kemiskinan di mana-mana dan keterbelakangan budaya. Kaum petani semakin menderita karena dianggap sebagai tulang punggung penguasa dan sebutan untuknya mengalami peyorasi karena maknanya semakin rendah. Sedangkan masyarakat kota yang memiliki gaya hidup yang tidak biasa memperlihatkan stratifikasi sosial yang mencolok.
Dengan perkembangan ekonomi kapitalis pada masyarakat kota, semakin membuat masyarakat desa terbelakang. Namun kaum petani tidak menyesali hal tersebut, hal ini disebut sebagai ideologi fondamentalis agraris. Dan menganggap pertanian adalah inti dasar masyarakat Jepang.
f.        Kondisi setelah perang dunia II
Setelah kalah dalam perang dunia II, Jepang di bawah kedudukan tentara Amerika Serikat. Jepang memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi dan industri, dengan sungguh-sungguh kerja keras maka Jepang dapat memperbaiki sector ekonominya dan mensejajarkannya dengan Negara-negara maju. Pada era 1950-an Jepang berkembang pesat, masyarakat Jepang dilanda semangat konsumerisme. Dengan mudah didapatkan oleh setiap orang jika mereka menginginkannya, masyarakat juga mempu menyekolahkan anaknya pada tingkat universitas.
Pertumbuhan penduduk juga membatu kestabilan Negara. Awal 1970-an, Jepang telah menjadi partner perdagangan terbesar, juga menanamkan investasi diberbagai Negara, termasuk di Negara-negara maju. Partisipasinya terhadap badan-badan yang bersifat  internasional merupakan hal yang sangat diperhitungkan.

2.      Temuan Jurnal
Setelah saya mencermati jurnal yang membahas dinamika masyarakat Jepang dari masa Edo hingga pasca perang dunia II, yang saya temukan adalah proses penting yang dialami Jepang sebelum menuju menjadi Negara yang modern. Proses di mana terjadinya peralihan dari Negara yang mengemban unsur tradisional menjadi Negara modern dan maju. Tidak mungkin sebuah Negara mampu berkembang pesat tanpa melewati fase yang sangat keras, proses ini dimulai pada masa Edo Bakufu yaitu masa keshogunan Tokugawa, kemudian terjadinya Restorasi Meiji yang membawa pengaruh Barat dan menghancurkan tatanan yang telah tersusun lama.
Negara Jepang yang terkenal dengan aturan dan kedisiplinannya, berusaha menjadi Negara yang mampu bersaing dengan Negara-negara maju lainnya. Pasang surut yang dialami oleh masyarakat Jepang merupakan ujian yang sangat berat untuk dilewati oleh Jepang dalam perjuangannya. Semoga temuan ini dapat bermanfaat untuk perkuliahan kita di mata kulia Sejarah Asia Timur.

3.      Sumbangan Jurnal Terhadap Mata Kuliah Sejarah Asia Timur
Sumbangan jurnal yang berjudul Dinamika masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II adalah memahami kehidupan masyarakat Jepang pada masa tersebut, bagaimana aspek sosial, ekonomi, dan politik pada masa perjuangan Jepang menuju modernisasi. Dalam suatu perjuangan menjadi Negara yang maju, terdapat suatu proses peralihan yang membutuhkan banyak analisis, dan mempertanyakan bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Hal ini akan sangat menarik mahasiswa untuk menganalisis bagaimana perubahan dinamika sosial yang terjadi di Jepang.
Setelah memahami maksud dari Jepang ini, kita sebagai warga Negara yang baik, meminjam ungkapan Soekarno bahwa Jangan pernah sekali melupankan sejarah. Hal ini sesuai dengan temuan kita jika perjalanan sejarah suatu bangsa akan menuntun masyarakatnya semakin maju. Sehingga dapat diambil faedahnya adalah untuk membuka cakrawala, belajar dari Jepang melalui perjalanan sejarahnya. Melalui pengetahuan ini akan memunculkan inspirasi hidup disiplin dan bekerja keras, sehingga apa yang diinginkan dapatr tercapai dengan mudah.

4.      Analisis Jurnal
Saya mencoba menggunakan teori perubahan dinamika sosial untuk menganalisis dinamika yang terjadi di Jepang, Menurut Arnold Toynbee, kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban bisa dijelaskan melalui konsep-konsep kemasyarakatan yang saling berhubungan satu sama lain yaitu tantangan dan tanggapan. Jika suatu masyarakat mampu merespon dan menyesuaikan diri dengan tantangan tersebut maka akan bertahan dan berkembang. Sebaliknya jika masyarakat tidak mampu maka akan mengalami kemunduran dan akhirnya punah.
Teori ini sesuai dengan keadaan yang terjadi pada Jepang masa Edo Bakufu hingga pasca perang dunia II, masyarakat mengalami perubahan sosial yang signifikan. Maksudnya di sini adalah Jepang yang dulunya memiliki tatanan dan aturan tradisional mendapatkan tekanan dari asing, khususnya Amerika Serikat untuk membuka diri bagi bangsa Barat. Hal ini merupakan tantangan bagi masyarakat Jepang untuk tetap bertahan berada di tengah-tengah kehidupan yang keras. Jepang harus menghadapinya dengan berbagai pengetahuan dan kemampuan yang ada, jika tidak maka Jepang akan tergilas oleh kemajuan jaman yang semakin menekan dunia.
Namun Jepang yang memiliki aturan dan kedisiplinan yang tinggi mampu menanggapi tantangan tersebut, dengan dibukanya Jepang bagi bangsa Barat, tidak membuat masyarakat Jepang mati dan berkembang, sebaliknya kaum pedagang semakin memajukan sector indutrinya. Keterlibatannya dalam perang dunia I juga semakin membuatnya kuat dalam menghadapi perputaran dunia. Walaupun ia sempat terpuruk atas kekalahannya di perang melawan sekutu, ia mampu bangkit kembali untuk menata negaranya menjadi Negara yang semakin maju, bahkan mensejajarkan negaranya dengan Negara-negara maju di Barat.
Ketika Negara pernah mengalami titik terendahnya dalam menghadapi persoalan, bukan saatnya untuk merasakan kehancuran. Namun hal ini adalah tantangan yang harus dihadapi. Negara tidak akan pernah kuat dan mampu mempertahankan kemajuannya jika ia tidak pernah terjatuh serendah-rendahnya.
Sumber Rujukan:
Setiadi, Elly M dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana
Suherman, Eman. 2004. Dinamika Masyarakat Jepang dari MAsa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II. Jurnal Humaniora (online). Volume 16. Nomor 2. (http://jurnal.ugm.ac.id diakses tanggal 2 Januari 2016).

Minggu, 06 Desember 2015

SISTEM SEWA TANAH OLEH RAFFLES TAHUN 1811-1816



KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih sayang-Nya yang telah memberikan kekuatan keoada penulis dalam menyelesaikan makalah tepat waktu untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Sejarah Agraria. Kedua, penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Tulus yang telah menyertakan doanya. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang memberikan motivasi kepada penulis agar berusaha sekuat tenaga dalam menyusun makalah ini.
Awalnya terdapat banyak kendala saat mengerjakan makalah ini. Namun berkat ketekunan dan bantuan dari teman-teman, makalah ini dapat diselesaikan. Akan tetapi, manusia tak pernah luput dari kesalahan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan bimbingan dan motivasi Pembina mata kuliah untuk menyempurnakan makalah ini sehingga bermanfaat bagi banyak orang.
Penulis dengan lapang dada menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah Sistem Sewa tanah oleh Raffles ini dapat bermanfaat bagi banyak orang. Penulis mengucapkan terima kasih dan meminta maaf apabila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini.

Surabaya, 7 Mei 2015
Penulis,





BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Setelah Indonesia khususnya pulau Jawa jatuh ke tangan Inggris, Indonesia oleh pemerintah Inggris dijadikan bagian dari jajahannya di India. Gubernur Jenderal East India Company (EIC), Lord Minto yang berkedudukan di Calcuta India mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur untuk Indonesia (Jawa). Raffles didampingi oleh suatu badan penasihat yang disebut Advisory Council. Tugas yang utama adalah mengatur pemerintahan dan meningkatkan perdagangan, serta keuangan.
Ada konsep bahwa semua tanah adalah milik pemerintah Inggris sebagai pengganti raja sebagai pemilik hak atas tanah, sehingga semua tanah eigendom pemerintah dan rakyat sebagai penyewa (pactiter). Raffles menggunakan system feodalisme di Inggris. Sebagai seorang yang beraliran liberal, Raffles menginginkan adanya perubahan dalam pemerintahan di Jawa. Selain bidang pemerintahan, ia juga melakukan perubahan dibidang ekonomi. Banyak ketentuan pajak yang dikeluarkan untuk mengelola sistem pertanahan di Indonesia.
Namun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Raffles mengalami kegagalan, mengapa mengalami kegagalan? Bagaimana pelaksanaannya sehingga mengalami kegagalan? Mari kita bahas lebih intensif kinerja Raffles di Indonesia. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan beberapa rumusan masalah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.       Bagaimana sistem pemerintahan Raffles di Indonesia???
2.       Bagaimana pelaksanaan sewa tanah pada masa Raffles???
3.       Mengapa sistem sewa tanah yang dikeluarkan Raffles mengalami kegagalan???

C.      Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam menyusun makalah ini adalah:
―     Mengetahui sistem pemerintahan Raffles di Indonesia pada masa kolonial
―     Mengetahui pelaksanaan sewa tanah pada masa Raffles
―     Mengetahui hal-hal yang mempengaruhi sistem sewa tanah yang dikeluarkan Raffles mengalami kegagalan

D.      Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
v  Bagi mahasiswa
―     Sebagai persyaratan mengikuti Ujian Akhir Semester
―     Sebagai tambahan pengetahuan tentang permasalahan agraria, khususnya masa kolonial
―     Menambah perbendaharaan karya tulis ilmiah

v  Bagi dosen
―     Mengetahui tingkat kognitif yang dimiliki mahasiswa
―     Mengetahui kecakapan mahasiswa dalam menyusun dan menyelesaikan makalah







BAB II
PEMBAHASAN
1.       Sistem Pemerintahan Raffles di Indonesia
Raffles adalah seorang pembaharu dan penentang feodalisme sebagaimana Daendels (Rickleft, 1998: 174). Pembaharuan yang dilakukan Raffles di Indonesia secara teoritis mirip dengan pemikiran Dirk Van Hogendorp pada tahun 1799. Inti dari pemikiran tersebut adalah kebebasan berusaha bagi setiap orang, dan pemerintah hanya berhak menarik pajak dari penggarap. Pemerintahan dijalankan untuk mencapai kesejahteraan umum, dan kesadaran baru baik sarekat dagang, terlebih kekuasaan negara tidak mungkin bertahan hidup dengan memeras masyarakatnya (Sujatmoko, 2012). Dibawah ini merupakan kebijakan- kebijakan yang dilakukan Raffles:
a.       Landrente Stelsel (sistem pajak bumi) sebagai pengganti Contingenten (penyerahan hasil bumi dari daerah jajahan), sedangkan penyerahan wajib (verplichte leverantie) dihapuskan
b.      Monopoli, pelayaran Hongi, dan segala pemaksaan di Maluku dihapuskan
c.       Perbudakan dilarang
Kebijakan Raffles dalam bidang pengetahuan, keadilan, dan kesehatan rakyat:
a.       Ditulisnya buku berjudul History of Java di London pada tahun 1817 dan dibagi dua jilid
b.      Raffles aktif mendukung Bataviaach Genotschaap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan
c.       Dirintisnya Kebun Raya Bogor
d.      Mengadakan suntikan cacar
e.      Pengadilan menggunakan system juri
f.        Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi
Dalam pemerintahannya, Raffles menghendaki adanya sistem sewa tanah atau dikenal juga dengan sistem pajak bumi atau Landrente. Dalam usahanya untuk melaksanakan sistem sewa tanah ini Raffles berpagang pada tiga asas, yaitu:
a.       Segala bentuk dan jenis penyerahan wajib maupun pekerjaan rodi perlu dihapuskan dan rakyat tidak dipaksa untuk menanam satu jenis tanaman, melainkan mereka diberi kebebasan untuk menentukan jenis tanaman apa yang akan ditanam
b.      Pengawasan tertinggi langsung dilakukan oleh pemerintah tanah atas dengan menarik pendapatan atas tanah-tanah dengan pendapatan dan sewanya tanpa perantara Bupati, yang kerja selanjutnya bagi mereka adalah terbatas pada pekerjaan-pekerjaan umum
c.       Menyewakan tanah-tanah yang diawasi pemerintah secara langsung dalam persil-persil besar atau kecil, menurut keadaan setempat, berdasarkan kontrak-kontrak untuk waktu yang terbatas


Untuk menentukan besarnya pajak, tanah dibagi menjadi tiga kelas, yaitu:
a.       Kelas I yaitu kelas yang subur, dikenakan pajak dari setengah hasil bruto
b.      Kelas II yaitu kelas tanah setengah subur, dikenakan pajak sepertiga dari hasil bruto
c.       Kelas III yaitu kelas tanah tandus, dikenakan pajak dua per lima dari hasil bruto
Selain menerapkan kebijakan landrente, dalam bidang pemerintahan Raffles juga menerapkan kebijakannya melalui:
a.       Membagi tanah Jawa ke dalam 16 karesidenan
b.      Mengurangi jabatan bupati yang berkuasa
c.       Mengangkat Bupati menjadi pegawai negeri yang digaji
d.      Mempraktekkan sistem yuri dalam pengadialn seperti di Inggris
e.      Melarang adanya perbudakan, membangun pusat pemerintahan di Istana Bogor
f.        Kesultanan Banten dihapuskan, kedaulatan kesultanan Cirebon harus diserahkan kepada kolonial Inggris

2.       Pelaksanaan sewa tanah pada masa Raffles
Sewa tanah diperkenalkan di Jawa semasa pemerintahan peralihan Inggris oleh Thomas Stamford Raffles, yang menghimpun banyak gagasan dari sistem pendapatan tanah India-Inggris. Sewa tanah didasarkan pada pemikiran pokok mengenai hak pengusa sebagai pemilik semua tanah yang ada (Sujatmoko, 2012).
Thomas Stamford Raffles menyebut sistem sewa tanah dengan istilah landrente. Peter Boomgard (2004: 57) menyatakan bahwa kita perlu membedakan antara landrente sebagai suatu pajak bumi atau lebihtepat pajak hasil tanah, yang diperkenalkan tahun 1813 dan masih terus dipungut pada akhir periode kolonial, dan andrente sebagai suatu sistem (Belanda: Landrente Stelsel), yang berlaku antara tahun 1813 sampai 1830.
Tiga aspek sistem pelaksaan sewa tanah:
a.       Penyelenggaraan sistem pemerintahan atas dasar modern
Sistem pemerintahan yang tidak langsung yaitu pemerintahan yang dilaksanakan oleh para raja-raja dan kepala desa digantikan dengan para pegawai Eropa. Mengganti pemerintahan tersebut berarti kekuasaan tradisional raja-raja dan kepala tradisional sangat dikurangi dan sumber-sumber tradisional mereka dikurangi ataupun ditiadakan.

b.      Pelaksanaan pemungutan sewa
Pelaksanaan pemungutan sewa selama masa VOC adalah pajak kolektif, dalam artian pajak tersebut dipungut bukan dasar perhitungan perorangan tapi seluruh desa. Pada masa sewa tanah hal ini digantikan menjadi pajak adalah kewajiban tiap perorangan bukan desa.


c.       Penanaman tanaman dagangan untuk dieksport
Pada masa sewa tanah ini terjadi penurunan dari sisi ekspor, misalnya tanaman kopi yang merupakan komoditas ekspor pada awal abad ke-19. Pada masa sistem sewa tanah mengalami kegagalan, hal ini karena kurangnya pengalaman para petani dalam menjual tanaman-tanaman mereka di pasar bebas. Para petani dibebaskan menjual sendiri tanaman yang mereka tanam.
Dua hal yang ingin dicapai Raffles melalui sistem sewa tanah ini:
a.       Memberikan kebebasan berusaha kepada peteni Jawa melalui pajak tanah
b.      Mengefektifkan sistem administrasi Eropa yang berarti penduduk pribumi akan mengenal ide-ide Eropa mengenai kejujuran, ekonomi, dan keadilan
Namun pada kenyataannya sistem sewa tanah ini:
a.       Rakyat tetap saja harus membayar pajak kepada pemerintah. Rakyat diposisikan sebagai penyewa tanah, karena tanah adalah milik pemerintah. Pada sistem ini feodalisme dikurangi, sehingga para kepala adat yang dulunya mendapatkan hak-hak atau pendapatan, sekarang dikurangi bahkan ditiadakan
b.      Setiap orang dibebaskan menanam apa saja untuk tanaman ekspor, dan bebas menjualnya kepada siapa saja di pasar yang telah disediakan oleh pemerintah. Tetapi karena kecenderungan rakyat yang telah terbiasa oleh tanam paksa yakni mereka hanya menanam saja, untuk menjual tanaman yang mereka tanam tentu mengalami kesulitan, sehingga mereka menyerahkan semua urusan menjual hasil pertanian kepada para kepala desa untuk menjualnya secara bebas. Tentu hal ini berakibat terhadap banyaknya korupsi dan penyelewengan yang dilakukan oleh para kepala desa tersebut.

3.       Kegagalan Sistem Sewa Tanah
Pelaksanaan sistem sewa tanah yang dilakukan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles pada sistem pertanahan di Nusantara menemui beberapa kegagalan. Sistem sewa tanah yang diberlakukan ternyata memiliki kecenderungan tidak cocok bagi pertanahan milik penduduk pribumi di Nusantara. Sistem sewa tanah tersebut tidak berjalan lama, hal ini disebabkan beberapa faktor dan mendorong sistem tersebut untuk tumbang kemudian gagal dalam peranannya mengembangkan kejayaan kolonisasi Inggris di Nusantara. Beberapa faktor kegagalan sistem sewa tanah antara lain:
a.       Keuangan Negara yang terbatas, memberikan dampak terhadap minimnya pengembangan pertanian.
b.      Pegawai yang cakap jumlahnya cukup sedikit, selain karena hanya diduduki oleh kalangan pemerintah Inggris sendiri, pegawai yang jumlahnya sedikit kurang berpengalaman dalam mengelola sistem sewa tersebut.
c.       Masyarakat Indonesia pada masa itu belum mengenal perdagangan ekspor seperti India yang pernah mengalami sistem sewa tanah dari penjajahan Inggris. Pada abad ke-9 masyarakat Jawa masih mengenal sistem pertanian sederhana, dan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri sehingga penerapan sistem sewa tanah sulit diberlakukan.
d.      Masyarakat Indonesia terutama di desa masih terikat dengan feodalisme dan belum mengenal ekonomi uang, sehingga motivasi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari produktifitas hasil pertanian belum disadari betul.
e.      Pajak tanah yang terlalu tinggi, sehingga banyak tanah yang terlantar tidak digarap. Akibatnya menurunkan produktifitas pertanian.
f.        Adanya pegawai yang bertindak sewenang-wenang dan korupsi.
g.       Singkatnya masa jabatan Raffles yang hanya bertahan 5 tahun, sehingga ia belum sempat memperbaiki kelemahan dan penyimpangan dalam sistem sewa tanah.
Secara garis besar kegagalan Raffles dalam sistem sewa tanah di Jawa terkendala akan susunan kebiasaan masyarakat Indonesia sendiri. Raffles memberlakukan sistem yang sama antara India yang lebih maju dalam perekonomiannya pada Indonesia yang masa itu masih cukup sederhana, sifat ekonomi desa di Jawa yang bersifat self suffcient.
Dalam pelaksanaannya, sistem pemungutan pajak tanah ini tidak dapat dilakukan semua menurut gagasannya, karena banyak menghadapi kesulitan dan hambatan yang timbul dari kondisi di tanah jajahan. Terlebih praktek pemungutan pajak tanah banyak menimbulkan kericuhan dan penyelewengan. Belum adanya pengukuran luas tanah yang tepat, kepastian hukum dalam hak milik tanah belum ada, hukum adat masih kuat, penduduk belum mengenal ekonomi uang dan sulit memperoleh uang menyebabkan pelaksanaan pemungutan pajak yang dilancarkan Raffles tidak berhasil dan banyak menimbulkan penyelewengan.
Keinginan Raffles untuk memperbaiki kebijakannya ini terhalang oleh terjadinya perubahan politik di Eropa yang membuatnya terpaksa meninggalkan Indonesia. Kurang berhasilnya sistem pemungutan pajak tanah yang dilancarkan Raffles, menyebabkan pemerintah Belanda yang menerima pengembalian tanah jajahan dari Inggris pada tahun 1816, ragu dalam memilih antara sistem pajak dan sistem paksa. Dihadapkan tuntutan negeni induk yang mendesak pertimbangan terhadap sistem yang lebih menguntungkan negeri induk cenderung selalu yang dipilih. Demikian pula, yang dihadapi para penguasa kolonial pada masa 1816-1830.





BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Dalam pemerintahannya, Raffles menghendaki adanya sistem sewa tanah atau dikenal juga dengan sistem pajak bumi dengan istilah landrente. Isi pokok sistem pajak tanah yang diperkenalkan Raffles pada dasarnya berpangkal pada peraturan tentang pemungutan semua hasil penanaman baik di lahan sawah maupun di lahan tegal. Pelaksanaan sistem sewa tanah yang diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Stamford Raffles mengandung tujuan yaitu diantaranya bagi para petani dapat menanam dan menjual hasil panennya secara bebas untuk memotivasi mereka agar bekerja lebih giat sehingga kesejahteraannya mejadi lebih baik.
Akan tetapi pelaksanaan sistem sewa tanah yang dilakukan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles pada sistem pertanahan di Indonesia menemui beberapa kegagalan. Sehingga muncul anggapan bahwa Raffles sebagai penyebab kemunduran hukum atas tanah, sistem sewa tanah yang diberlakukan ternyata memiliki kecenderungan tidak cocok bagi pertanahan milik penduduk pribumi di Indonesia karena pajak tanah yang terlalu tinggi, sehingga banyak tanah yang tidak digarap.
B.      SARAN
Penulis menyadari terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun agar menjadi motivasi penulis dalam memperbaiki kekurangan maupun kesalahan pada makalah ini. Penulis meminta maaf apabila terdapat kata yang kurang berkenan dan mengenakkan, tak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.










SUMBER RUJUKAN

Description: sistem sewa tanah masa raffles, sistem sewa tanah masa kolonial, sewa tanah raffles
Reviewer: Ivan Sujatmoko-ItemReviewed: Sistem Sewa Tanah Masa Raffles Rating 5
Kartodirjo, Sartono, dkk. 1977. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid IV dan V. Jakarta: Balai Pustaka
Luthfi, Ahmad Nashih. 2011. Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor. Yogyakarta: Pustaka Ifada
Pranoto, Suhartono W. 2010. Jawa Bandit-Bandit Pedesaan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Ricklefs, M. C. 1991. Sejarah Indonesia Modern, diterjemahkan oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta: Gajah Mada University Pers
Sumadio, Bambang. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka