Rabu, 03 Februari 2016

Menganalisis Jurnal


Judul : Dinamika Masyarakat Jepang Dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II
Penulis : Eman Suherman
Tahun : 2004
Jurnal/Vol/No : Jurnal Humaniora/16/2

1.      Sinopsis
Judul   : Dinamika Masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II
Latar belakang ditulisnya penelitian ini adalah untuk mengungkapkan proses panjang bagaimana proses penting masyarakat Jepang yang tradisional menjadi masyarakat yang modern. Jepang dikagumi dan diherankan oleh Negara-negara lain karena dalam waktu yang relatif singkat dapat menjadi Negara yang memiliki penduduk dengan kedisiplinan tinggi, maju, dan kaya. Dalam waktu kurang lebih satu abad, Jepang sebagai Negara miskin akan sumber daya alam, di dalam negeri penuh dengan kekacauan, terisolasi dengan dunia luar kurang lebih selama dua abad, dapat disejajarkan bahkan dalam bidang ekonomi melebihi Negara-negara maju. Masyarakat Jepang modern tidak akan lahir apabila tidak ada satu proses yang sangat penting, terjadi pada masa sebelum Meiji yaitu masa Edo Bakufu.
Penelitian ini akan menguraikan tentang dinamika masyarakat Jepang dimulai dari masa Edo Bakufu (1603-1867), karena pada masa ini menjadi landasan Jepang menuju ke masyarakat Jepang modern. Jaman Tokugawa Bakufu yang lebih dikenal dengan masa Edo, menjadi akar sukses mengantarkan Jepang dalam modernisasi. Jika diadakan penelitian mengenai keberhasilan Jepang membangun negaranya, kurang tepat jika menelitinya dimulai dari masa Meiji tanpa melakukan pertimbangan dengan masa sebelumnya yaitu masa Edo. Setelah jaman Edo, dipaparkan masyarakat Jepang pada masa Meiji (1868-1912), masa Taisho (1912-1925), dan masa Showa (1925-1989). Pada masa tersebut akan dijelaskan mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik.
a.      Kondisi masyarakat Jepang masa Edo
Jepang terdiri atas empat kelas masyarakat, yaitu kelas Militer atau Samurai, petani, tukang, dan pedagang. Selain keempat kelas tersebut, ada kelas lain yaitu kelas bangsawan (kuge), kelas ini tidak dimasukkan klasifikasi sosial karena dari sisi kekuasaan, mereka tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Kekuasaan pada masa ini adalah para Buke yang terdiri dari pada Shogun dan Daimyo, kaum samurai bukan hanya sebagai militer namun juga bekerja pada administrasi pemerintahan. Kaum yang paling menderita adalah para petani karena diadakannya kebijakan Sankunkotai yaitu pajak uang untuk menggantikan beras. Disisi lain kebijakan tersebut membuat para pedagang semakin memperlihatkan peningkatan dalam segi perekonomian. Kaum pedagang menguasai perdagangan yang berdampak pengaruhnya dimasyarakat semakin kuat.
Nilai positif dari dikeluarkannya kebijakan Sankunkotai adalah terjadinya dinamika kehidupan masyarakat Jepang, transportasi semakin maju dan perdagang semakin memegang pengaruhnya, ini menyebabkan banyak orang kaya di dalam masyarakat Jepang. Dari keadaan yang kondisif tersebut, maka hal ini berdampak dalam beberapa sektor yaitu pembangunan pasar nasional, perbaikan dalam komunikasi, majunya pendidikan, dan perekonomian. Hal ini yang menunjang lahirnya masa Restorasi Meiji.
b.      Kondisi masyarakat Jepang masa Meiji
Keruntuhan Tokugawa disebabkan oleh krisis politik, ekonomi, dan kepemimpinan yang disebabkan ketidakberdayaan pemerintah mempertahankan dan menjaga keamanan dari tekanan asing, terutama dari Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinan Komondor Perry memaksa Jepang membuka diri terhadap dunia luar. Pada tahun 1868, kaum ningrat militer mengambil alih kekuasaan yang melancarkan program revolusioner yang dikenal dengan Restorasi meiji.
Pada masa meiji, masyarakat menyambut tantangan Barat dengan menghancurkan struktur lama dan menegakkan tatanan politik dan sosial baru yang diilhami oleh pihak peradaban Barat. Jepang telah melampaui suatu masa peralihan dari negeri yang sejak dulu agraris menjadi suatu negeri yang mendekati ekonomi industri. Sejak awal jaman Meiji, pertanian merupakan pekerjaan hampir 80% penduduk Jepang. Selain itu penduduk Jepang semakin meningkat seiring  dihapuskannya kebijakan Larangan Pertambahan penduduk pada masa Tokugawa.
Selain itu juga dihapuskannya kebijakan pengelompokkan yang terdiri dari empat kelas, perkembangan selanjutnya diterapkan system tiga kelas yaitu kelas bangsawan (kazoku), samurai (shizoku), dan rakyat biasa (Heemin). Namun jarak ketiga kelas ini lambat laun tidak terlihat karena terjadinya pernikahan antarkelas seperti yang dilarang oleh masa kekuasaan Tokugawa.
c.       Kondisi masyarakat Jepang masa Taisho
Kaisar Taisho naik tahta, masa industralisasi berarti pembentukan kota-kota industri baru yang menyebabkan terjadinya konsentrasi penduduk ke kota-kota. Selain itu juga pertumbuhan penduduk semakin meningkat, namun jumlah kaum petani tidak bertambah, hal ini disebabkan karena mereka lebih tertarik kepada industri yang ada di kota-kota. Penghapusan hierarki status prajurit, tukang, dan pedagang pada masa Meiji membawa dampak terbukanya saluran baru untuk mobilitas sosial. Kekuasaan di bawah kapitalis kaya, para pemilik tanah yang luas, politikus, dan pejabat. Kedudukan mereka kuat karena mendapat dukungan dari sistem kekaisaran.
Menjelang perang dunia I, penguasa melancarkan program indokrinasi masa sebelum perang  dengan membentuk imperialise dalam system kekaisaran. Hal ini membuat kaum rendah semakin menderita, namun setelah melibatkan diri pada perang dunia I dan dipihak yang menang, Jepang mendapatkan pengaruh yang kuat di pasar Asia. Seiring keberhasilan tersebut, ide-ide Barat masuk ke Jepang. Kehidupan masyarakat Jepang semakin makmur dalam bidang industri dan ekonomi, selain itu juga pendidikan semakin berkembang dengan adanya 34 Universitas, 29 Sekolah Menengah Atas, 84 Sekolah Profesional, dan banyak sekolah menengah pertama yang semakin bertambah di setiap tahunnya. Dengan data ini, dapat dikatakan bahwa Jepang pada tahun 1920-an sudah banyak menikmati pendidikan. Sehingga akan menghasilkan sumberdaya manusia yang berpendidikan dan berkualitas.
d.      Kondisi masyarakat Jepang masa Showa
Kaisar Hirohito diangkat untuk menggantikan kaisar Taisho, ia dianggap kaisar yang berkuasa paling lama yaitu 62 tahun. Di bawah kekuasaannya Jepang mengalami pasang surut, kekalahan Jepang pada perang dunia II membuat masyarakat kecewa dan depresi. Setelah Jepang menyerah terhadap sekutu, tentara Amerika Serikat menduduki Jepang dan membuat Undang-undang baru, yaitu bahwa kaisar hanya sebagai lambing kesatuan Negara. Jepang juga dilarang mendirikan angkatan perang, namun diperbolehkan jika hanya sebagai pertahanan.
e.       Kondisi sebelum perang dunia II
Jepang mengalami kegoncangan seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi, ditambah dengan kemiskinan di mana-mana dan keterbelakangan budaya. Kaum petani semakin menderita karena dianggap sebagai tulang punggung penguasa dan sebutan untuknya mengalami peyorasi karena maknanya semakin rendah. Sedangkan masyarakat kota yang memiliki gaya hidup yang tidak biasa memperlihatkan stratifikasi sosial yang mencolok.
Dengan perkembangan ekonomi kapitalis pada masyarakat kota, semakin membuat masyarakat desa terbelakang. Namun kaum petani tidak menyesali hal tersebut, hal ini disebut sebagai ideologi fondamentalis agraris. Dan menganggap pertanian adalah inti dasar masyarakat Jepang.
f.        Kondisi setelah perang dunia II
Setelah kalah dalam perang dunia II, Jepang di bawah kedudukan tentara Amerika Serikat. Jepang memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi dan industri, dengan sungguh-sungguh kerja keras maka Jepang dapat memperbaiki sector ekonominya dan mensejajarkannya dengan Negara-negara maju. Pada era 1950-an Jepang berkembang pesat, masyarakat Jepang dilanda semangat konsumerisme. Dengan mudah didapatkan oleh setiap orang jika mereka menginginkannya, masyarakat juga mempu menyekolahkan anaknya pada tingkat universitas.
Pertumbuhan penduduk juga membatu kestabilan Negara. Awal 1970-an, Jepang telah menjadi partner perdagangan terbesar, juga menanamkan investasi diberbagai Negara, termasuk di Negara-negara maju. Partisipasinya terhadap badan-badan yang bersifat  internasional merupakan hal yang sangat diperhitungkan.

2.      Temuan Jurnal
Setelah saya mencermati jurnal yang membahas dinamika masyarakat Jepang dari masa Edo hingga pasca perang dunia II, yang saya temukan adalah proses penting yang dialami Jepang sebelum menuju menjadi Negara yang modern. Proses di mana terjadinya peralihan dari Negara yang mengemban unsur tradisional menjadi Negara modern dan maju. Tidak mungkin sebuah Negara mampu berkembang pesat tanpa melewati fase yang sangat keras, proses ini dimulai pada masa Edo Bakufu yaitu masa keshogunan Tokugawa, kemudian terjadinya Restorasi Meiji yang membawa pengaruh Barat dan menghancurkan tatanan yang telah tersusun lama.
Negara Jepang yang terkenal dengan aturan dan kedisiplinannya, berusaha menjadi Negara yang mampu bersaing dengan Negara-negara maju lainnya. Pasang surut yang dialami oleh masyarakat Jepang merupakan ujian yang sangat berat untuk dilewati oleh Jepang dalam perjuangannya. Semoga temuan ini dapat bermanfaat untuk perkuliahan kita di mata kulia Sejarah Asia Timur.

3.      Sumbangan Jurnal Terhadap Mata Kuliah Sejarah Asia Timur
Sumbangan jurnal yang berjudul Dinamika masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II adalah memahami kehidupan masyarakat Jepang pada masa tersebut, bagaimana aspek sosial, ekonomi, dan politik pada masa perjuangan Jepang menuju modernisasi. Dalam suatu perjuangan menjadi Negara yang maju, terdapat suatu proses peralihan yang membutuhkan banyak analisis, dan mempertanyakan bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Hal ini akan sangat menarik mahasiswa untuk menganalisis bagaimana perubahan dinamika sosial yang terjadi di Jepang.
Setelah memahami maksud dari Jepang ini, kita sebagai warga Negara yang baik, meminjam ungkapan Soekarno bahwa Jangan pernah sekali melupankan sejarah. Hal ini sesuai dengan temuan kita jika perjalanan sejarah suatu bangsa akan menuntun masyarakatnya semakin maju. Sehingga dapat diambil faedahnya adalah untuk membuka cakrawala, belajar dari Jepang melalui perjalanan sejarahnya. Melalui pengetahuan ini akan memunculkan inspirasi hidup disiplin dan bekerja keras, sehingga apa yang diinginkan dapatr tercapai dengan mudah.

4.      Analisis Jurnal
Saya mencoba menggunakan teori perubahan dinamika sosial untuk menganalisis dinamika yang terjadi di Jepang, Menurut Arnold Toynbee, kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban bisa dijelaskan melalui konsep-konsep kemasyarakatan yang saling berhubungan satu sama lain yaitu tantangan dan tanggapan. Jika suatu masyarakat mampu merespon dan menyesuaikan diri dengan tantangan tersebut maka akan bertahan dan berkembang. Sebaliknya jika masyarakat tidak mampu maka akan mengalami kemunduran dan akhirnya punah.
Teori ini sesuai dengan keadaan yang terjadi pada Jepang masa Edo Bakufu hingga pasca perang dunia II, masyarakat mengalami perubahan sosial yang signifikan. Maksudnya di sini adalah Jepang yang dulunya memiliki tatanan dan aturan tradisional mendapatkan tekanan dari asing, khususnya Amerika Serikat untuk membuka diri bagi bangsa Barat. Hal ini merupakan tantangan bagi masyarakat Jepang untuk tetap bertahan berada di tengah-tengah kehidupan yang keras. Jepang harus menghadapinya dengan berbagai pengetahuan dan kemampuan yang ada, jika tidak maka Jepang akan tergilas oleh kemajuan jaman yang semakin menekan dunia.
Namun Jepang yang memiliki aturan dan kedisiplinan yang tinggi mampu menanggapi tantangan tersebut, dengan dibukanya Jepang bagi bangsa Barat, tidak membuat masyarakat Jepang mati dan berkembang, sebaliknya kaum pedagang semakin memajukan sector indutrinya. Keterlibatannya dalam perang dunia I juga semakin membuatnya kuat dalam menghadapi perputaran dunia. Walaupun ia sempat terpuruk atas kekalahannya di perang melawan sekutu, ia mampu bangkit kembali untuk menata negaranya menjadi Negara yang semakin maju, bahkan mensejajarkan negaranya dengan Negara-negara maju di Barat.
Ketika Negara pernah mengalami titik terendahnya dalam menghadapi persoalan, bukan saatnya untuk merasakan kehancuran. Namun hal ini adalah tantangan yang harus dihadapi. Negara tidak akan pernah kuat dan mampu mempertahankan kemajuannya jika ia tidak pernah terjatuh serendah-rendahnya.
Sumber Rujukan:
Setiadi, Elly M dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana
Suherman, Eman. 2004. Dinamika Masyarakat Jepang dari MAsa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II. Jurnal Humaniora (online). Volume 16. Nomor 2. (http://jurnal.ugm.ac.id diakses tanggal 2 Januari 2016).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar