Judul : Dinamika Masyarakat Jepang Dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II
Penulis : Eman Suherman
Tahun : 2004
Jurnal/Vol/No : Jurnal
Humaniora/16/2
1.
Sinopsis
Judul : Dinamika Masyarakat Jepang dari Masa Edo
Hingga Pasca Perang Dunia II
Latar belakang ditulisnya penelitian
ini adalah untuk mengungkapkan proses panjang bagaimana proses penting
masyarakat Jepang yang tradisional menjadi masyarakat yang modern. Jepang
dikagumi dan diherankan oleh Negara-negara lain karena dalam waktu yang relatif
singkat dapat menjadi Negara yang memiliki penduduk dengan kedisiplinan tinggi,
maju, dan kaya. Dalam waktu kurang lebih satu abad, Jepang sebagai Negara
miskin akan sumber daya alam, di dalam negeri penuh dengan kekacauan,
terisolasi dengan dunia luar kurang lebih selama dua abad, dapat disejajarkan
bahkan dalam bidang ekonomi melebihi Negara-negara maju. Masyarakat Jepang
modern tidak akan lahir apabila tidak ada satu proses yang sangat penting,
terjadi pada masa sebelum Meiji yaitu masa Edo Bakufu.
Penelitian ini akan menguraikan tentang
dinamika masyarakat Jepang dimulai dari masa Edo Bakufu (1603-1867), karena
pada masa ini menjadi landasan Jepang menuju ke masyarakat Jepang modern. Jaman
Tokugawa Bakufu yang lebih dikenal dengan masa Edo, menjadi akar sukses
mengantarkan Jepang dalam modernisasi. Jika diadakan penelitian mengenai
keberhasilan Jepang membangun negaranya, kurang tepat jika menelitinya dimulai
dari masa Meiji tanpa melakukan pertimbangan dengan masa sebelumnya yaitu masa
Edo. Setelah jaman Edo, dipaparkan masyarakat Jepang pada masa Meiji
(1868-1912), masa Taisho (1912-1925), dan masa Showa (1925-1989). Pada masa
tersebut akan dijelaskan mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan politik.
a.
Kondisi
masyarakat Jepang masa Edo
Jepang terdiri atas empat kelas
masyarakat, yaitu kelas Militer atau Samurai, petani, tukang, dan pedagang. Selain
keempat kelas tersebut, ada kelas lain yaitu kelas bangsawan (kuge), kelas ini
tidak dimasukkan klasifikasi sosial karena dari sisi kekuasaan, mereka tidak
memiliki kekuasaan apa-apa. Kekuasaan pada masa ini adalah para Buke yang
terdiri dari pada Shogun dan Daimyo, kaum samurai bukan hanya sebagai militer
namun juga bekerja pada administrasi pemerintahan. Kaum yang paling menderita
adalah para petani karena diadakannya kebijakan Sankunkotai yaitu pajak uang
untuk menggantikan beras. Disisi lain kebijakan tersebut membuat para pedagang
semakin memperlihatkan peningkatan dalam segi perekonomian. Kaum pedagang
menguasai perdagangan yang berdampak pengaruhnya dimasyarakat semakin kuat.
Nilai positif dari dikeluarkannya
kebijakan Sankunkotai adalah terjadinya dinamika kehidupan masyarakat Jepang,
transportasi semakin maju dan perdagang semakin memegang pengaruhnya, ini
menyebabkan banyak orang kaya di dalam masyarakat Jepang. Dari keadaan yang
kondisif tersebut, maka hal ini berdampak dalam beberapa sektor yaitu
pembangunan pasar nasional, perbaikan dalam komunikasi, majunya pendidikan, dan
perekonomian. Hal ini yang menunjang lahirnya masa Restorasi Meiji.
b.
Kondisi
masyarakat Jepang masa Meiji
Keruntuhan Tokugawa disebabkan oleh
krisis politik, ekonomi, dan kepemimpinan yang disebabkan ketidakberdayaan
pemerintah mempertahankan dan menjaga keamanan dari tekanan asing, terutama
dari Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinan Komondor Perry memaksa Jepang membuka
diri terhadap dunia luar. Pada tahun 1868, kaum ningrat militer mengambil alih
kekuasaan yang melancarkan program revolusioner yang dikenal dengan Restorasi
meiji.
Pada masa meiji, masyarakat menyambut
tantangan Barat dengan menghancurkan struktur lama dan menegakkan tatanan
politik dan sosial baru yang diilhami oleh pihak peradaban Barat. Jepang telah
melampaui suatu masa peralihan dari negeri yang sejak dulu agraris menjadi
suatu negeri yang mendekati ekonomi industri. Sejak awal jaman Meiji, pertanian
merupakan pekerjaan hampir 80% penduduk Jepang. Selain itu penduduk Jepang
semakin meningkat seiring dihapuskannya
kebijakan Larangan Pertambahan penduduk pada masa Tokugawa.
Selain itu juga dihapuskannya
kebijakan pengelompokkan yang terdiri dari empat kelas, perkembangan
selanjutnya diterapkan system tiga kelas yaitu kelas bangsawan (kazoku),
samurai (shizoku), dan rakyat biasa (Heemin). Namun jarak ketiga kelas ini
lambat laun tidak terlihat karena terjadinya pernikahan antarkelas seperti yang
dilarang oleh masa kekuasaan Tokugawa.
c.
Kondisi
masyarakat Jepang masa Taisho
Kaisar Taisho naik tahta, masa industralisasi
berarti pembentukan kota-kota industri baru yang menyebabkan terjadinya
konsentrasi penduduk ke kota-kota. Selain itu juga pertumbuhan penduduk semakin
meningkat, namun jumlah kaum petani tidak bertambah, hal ini disebabkan karena
mereka lebih tertarik kepada industri yang ada di kota-kota. Penghapusan
hierarki status prajurit, tukang, dan pedagang pada masa Meiji membawa dampak
terbukanya saluran baru untuk mobilitas sosial. Kekuasaan di bawah kapitalis
kaya, para pemilik tanah yang luas, politikus, dan pejabat. Kedudukan mereka
kuat karena mendapat dukungan dari sistem kekaisaran.
Menjelang perang dunia I, penguasa
melancarkan program indokrinasi masa sebelum perang dengan membentuk imperialise dalam system
kekaisaran. Hal ini membuat kaum rendah semakin menderita, namun setelah
melibatkan diri pada perang dunia I dan dipihak yang menang, Jepang mendapatkan
pengaruh yang kuat di pasar Asia. Seiring keberhasilan tersebut, ide-ide Barat
masuk ke Jepang. Kehidupan masyarakat Jepang semakin makmur dalam bidang industri
dan ekonomi, selain itu juga pendidikan semakin berkembang dengan adanya 34
Universitas, 29 Sekolah Menengah Atas, 84 Sekolah Profesional, dan banyak
sekolah menengah pertama yang semakin bertambah di setiap tahunnya. Dengan data
ini, dapat dikatakan bahwa Jepang pada tahun 1920-an sudah banyak menikmati
pendidikan. Sehingga akan menghasilkan sumberdaya manusia yang berpendidikan
dan berkualitas.
d.
Kondisi
masyarakat Jepang masa Showa
Kaisar Hirohito diangkat untuk
menggantikan kaisar Taisho, ia dianggap kaisar yang berkuasa paling lama yaitu
62 tahun. Di bawah kekuasaannya Jepang mengalami pasang surut, kekalahan Jepang
pada perang dunia II membuat masyarakat kecewa dan depresi. Setelah Jepang
menyerah terhadap sekutu, tentara Amerika Serikat menduduki Jepang dan membuat
Undang-undang baru, yaitu bahwa kaisar hanya sebagai lambing kesatuan Negara. Jepang
juga dilarang mendirikan angkatan perang, namun diperbolehkan jika hanya
sebagai pertahanan.
e.
Kondisi
sebelum perang dunia II
Jepang mengalami kegoncangan seiring
dengan krisis ekonomi yang terjadi, ditambah dengan kemiskinan di mana-mana dan
keterbelakangan budaya. Kaum petani semakin menderita karena dianggap sebagai
tulang punggung penguasa dan sebutan untuknya mengalami peyorasi karena
maknanya semakin rendah. Sedangkan masyarakat kota yang memiliki gaya hidup
yang tidak biasa memperlihatkan stratifikasi sosial yang mencolok.
Dengan perkembangan ekonomi
kapitalis pada masyarakat kota, semakin membuat masyarakat desa terbelakang.
Namun kaum petani tidak menyesali hal tersebut, hal ini disebut sebagai
ideologi fondamentalis agraris. Dan menganggap pertanian adalah inti dasar
masyarakat Jepang.
f.
Kondisi
setelah perang dunia II
Setelah kalah dalam perang dunia II,
Jepang di bawah kedudukan tentara Amerika Serikat. Jepang memusatkan perhatian
pada pembangunan ekonomi dan industri, dengan sungguh-sungguh kerja keras maka Jepang
dapat memperbaiki sector ekonominya dan mensejajarkannya dengan Negara-negara
maju. Pada era 1950-an Jepang berkembang pesat, masyarakat Jepang dilanda
semangat konsumerisme. Dengan mudah didapatkan oleh setiap orang jika mereka
menginginkannya, masyarakat juga mempu menyekolahkan anaknya pada tingkat
universitas.
Pertumbuhan penduduk juga membatu
kestabilan Negara. Awal 1970-an, Jepang telah menjadi partner perdagangan
terbesar, juga menanamkan investasi diberbagai Negara, termasuk di Negara-negara
maju. Partisipasinya terhadap badan-badan yang bersifat internasional merupakan hal yang sangat
diperhitungkan.
2.
Temuan Jurnal
Setelah saya mencermati jurnal yang
membahas dinamika masyarakat Jepang dari masa Edo hingga pasca perang dunia II,
yang saya temukan adalah proses penting yang dialami Jepang sebelum menuju
menjadi Negara yang modern. Proses di mana terjadinya peralihan dari Negara
yang mengemban unsur tradisional menjadi Negara modern dan maju. Tidak mungkin
sebuah Negara mampu berkembang pesat tanpa melewati fase yang sangat keras,
proses ini dimulai pada masa Edo Bakufu yaitu masa keshogunan Tokugawa,
kemudian terjadinya Restorasi Meiji yang membawa pengaruh Barat dan
menghancurkan tatanan yang telah tersusun lama.
Negara Jepang yang terkenal dengan
aturan dan kedisiplinannya, berusaha menjadi Negara yang mampu bersaing dengan
Negara-negara maju lainnya. Pasang surut yang dialami oleh masyarakat Jepang
merupakan ujian yang sangat berat untuk dilewati oleh Jepang dalam
perjuangannya. Semoga temuan ini dapat bermanfaat untuk perkuliahan kita di
mata kulia Sejarah Asia Timur.
3.
Sumbangan Jurnal Terhadap Mata
Kuliah Sejarah Asia Timur
Sumbangan jurnal yang berjudul
Dinamika masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II adalah
memahami kehidupan masyarakat Jepang pada masa tersebut, bagaimana aspek
sosial, ekonomi, dan politik pada masa perjuangan Jepang menuju modernisasi.
Dalam suatu perjuangan menjadi Negara yang maju, terdapat suatu proses peralihan
yang membutuhkan banyak analisis, dan mempertanyakan bagaimana hal tersebut
dapat terjadi. Hal ini akan sangat menarik mahasiswa untuk menganalisis
bagaimana perubahan dinamika sosial yang terjadi di Jepang.
Setelah memahami maksud dari Jepang
ini, kita sebagai warga Negara yang baik, meminjam ungkapan Soekarno bahwa
Jangan pernah sekali melupankan sejarah. Hal ini sesuai dengan temuan kita jika
perjalanan sejarah suatu bangsa akan menuntun masyarakatnya semakin maju. Sehingga
dapat diambil faedahnya adalah untuk membuka cakrawala, belajar dari Jepang
melalui perjalanan sejarahnya. Melalui pengetahuan ini akan memunculkan
inspirasi hidup disiplin dan bekerja keras, sehingga apa yang diinginkan dapatr
tercapai dengan mudah.
4.
Analisis Jurnal
Saya mencoba menggunakan teori
perubahan dinamika sosial untuk menganalisis dinamika yang terjadi di Jepang, Menurut
Arnold Toynbee, kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban bisa dijelaskan
melalui konsep-konsep kemasyarakatan yang saling berhubungan satu sama lain
yaitu tantangan dan tanggapan. Jika suatu masyarakat mampu merespon dan
menyesuaikan diri dengan tantangan tersebut maka akan bertahan dan berkembang.
Sebaliknya jika masyarakat tidak mampu maka akan mengalami kemunduran dan
akhirnya punah.
Teori ini sesuai dengan keadaan yang
terjadi pada Jepang masa Edo Bakufu hingga pasca perang dunia II, masyarakat
mengalami perubahan sosial yang signifikan. Maksudnya di sini adalah Jepang
yang dulunya memiliki tatanan dan aturan tradisional mendapatkan tekanan dari
asing, khususnya Amerika Serikat untuk membuka diri bagi bangsa Barat. Hal ini
merupakan tantangan bagi masyarakat Jepang untuk tetap bertahan berada di tengah-tengah
kehidupan yang keras. Jepang harus menghadapinya dengan berbagai pengetahuan
dan kemampuan yang ada, jika tidak maka Jepang akan tergilas oleh kemajuan
jaman yang semakin menekan dunia.
Namun Jepang yang memiliki aturan
dan kedisiplinan yang tinggi mampu menanggapi tantangan tersebut, dengan
dibukanya Jepang bagi bangsa Barat, tidak membuat masyarakat Jepang mati dan
berkembang, sebaliknya kaum pedagang semakin memajukan sector indutrinya.
Keterlibatannya dalam perang dunia I juga semakin membuatnya kuat dalam
menghadapi perputaran dunia. Walaupun ia sempat terpuruk atas kekalahannya di
perang melawan sekutu, ia mampu bangkit kembali untuk menata negaranya menjadi
Negara yang semakin maju, bahkan mensejajarkan negaranya dengan Negara-negara
maju di Barat.
Ketika Negara pernah mengalami titik
terendahnya dalam menghadapi persoalan, bukan saatnya untuk merasakan
kehancuran. Namun hal ini adalah tantangan yang harus dihadapi. Negara tidak
akan pernah kuat dan mampu mempertahankan kemajuannya jika ia tidak pernah
terjatuh serendah-rendahnya.
Sumber Rujukan:
Setiadi, Elly M dan
Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi.
Jakarta: Kencana
Suherman, Eman. 2004. Dinamika Masyarakat Jepang dari MAsa Edo
Hingga Pasca Perang Dunia II. Jurnal Humaniora (online). Volume 16. Nomor
2. (http://jurnal.ugm.ac.id diakses tanggal 2 Januari 2016).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar