Senin, 15 Desember 2014

Aliran Pemikiran Islam Salafy



1.       Aliran Salafy
Istilah salafy ini telah digunakan sejak abad pertengahan, tetapi saat ini kalimat ini mengacu terutama kepada pengikut aliran Islam Sunni modern yang dikenal sebagai Salafiyyah atau Salafisme, yang terkait pula dengan Wahhabisme untuk sebagian umatnya nama Wahabi ini dianggap menghina, mereka lebih memilih istilah Salafisme. Mereka memiliki argumen bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mengajarkan agama (aliran) baru dalam pemikiran atau penggambaran diri, beliau hanya berusaha memurnikan Islam yang telah bercampur dengan adat istiadat lokal.
Para pengikut salafy menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sebagai seorang pemikir besar dalam agama Islam, sebuah fakta yang dikonfirmasikan oleh mereka menutup ketaatan kepada ajaran doctrinal. Salafy melihat tiga generasi pertama dari umat Islam, yaitu Muhammad dan para sahabatnya, dan dua generasi berikut setelah mereka, tabi'in dan taba 'at-tabi'in, sebagai contoh bagaimana Islam harus dilakukan. Prinsip ini berasal dari aliran Sunni, hadits diberikan kepada Nabi Muhammad.
Pokok ajaran dari ideologi dasar salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada waktu masa Muhammad dan para sahabatnya, oleh karena itu tidak dikehendaki adanya inovasi yang telah ditambahkan pada abad nanti karena pengaruh adat dan budaya. Paham ideologi Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam yang lebih mirip dengan agama Muhammad pertama kali berdakwah. Dalam buku yang berjudul Ghazali and The Poetics of Imagination, karya Ebrahim Moosa, salafisme adalah sebuah gerakan paham politik Islamisme yang mengambil leluhur (salaf) dari patristik masa awal Islam sebagai paham dasar.
2.       Tokoh-tokoh pemikir aliran Salafy
·         Imam Hanbali
Imam Hanbali adalah salah seorang tokoh ulama salaf yang mempunyai ciri khas dalam pemikirannya yaitu lebih menerapkan pendekatan Lafdzi (tekstual) daripada pendekatan ta’wil, kemudian beliau menyerahkan (tafwidh) makna-makna ayat dan hadits mutasyabihat kepada Allah dan Rasul-Nya.
·         Ibnu Taimiah
Ibnu Taimiyah merupakan tokoh salaf yang ekstrim karena kurang memberikan ruang gerak leluasa pada akal. Ia adalah murid yang muttaqi, wara, zuhud, serta seorang panglima dan penentang bangsa Tartas yang berani. Ibnu Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat- ayat mutasyabihat. Menurutnya, ayat atau Hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, dengan cacatan tidak men-tajsim-kan, tidak menyerupakanNya dengan makhluk, dan tidak bertanya-tanya tentang-Nya.
3.       Sistem Pemikirannya
Menurut ibnu Taimiyah, metode aliran Salaf berbeda dengan metode ulama-ulama Islam. Aliran salaf hanya percaya kepada aqidah-aqidah dan dalil-dalil yang ditunjukkan oleh nash, karena nash tersebut adalah wahyu yang diturunkan oleh Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. Aliran salaf tidak percaya kepada metode logika rasional yang asing bagi Islam, karena metode ini tidak terdapat pada masa sahabat dan tabi’in.

Sumber Rujukan:
Ahmad Bin Hasan “ Fathur Rahman “ Surabaya, Toko Kitab Al-Hidayah, 1322 Hijriah

Kyai Haji Ahmad Dahlan



Biografi dan Pemikiran Islam
1.       Riwayat Hidup Singkat Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan memiliki nama kecil Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan setelah tiga saudaranya pada 1 Agustus 1868 (1285 Hijriah) di Kauman Yogyakarta dari keluarga berada, ayah beliau bernama Kyai Haji Abu Bakar dan ibundanya Siti Aminah. Kyai Haji Abu Bakar adalah khatib di Majid Agung Kesultanan Yogyakarta, sedangkan kakek dari ibunya adalah penghulu besar di Yogyakarta. Beliau adalah generasi ke-12 dari salah seorang walisongo yang terkemuka dalam mendakwahkan Islam di daerah Gresik yang bernama Maulana Malik Ibrahim. Darwis dibesarkan di lingkungan keagamaan yang sangat kuat, berpengaruh besar dalam hidupnya kelak.
2.       Pengalaman pendidikan
Darwis belajar mengaji sekitar tahun 1875 dan masuk pesantren. Pengetahuan yang dimiliki sebagian besar merupakan hasil otodidaknya, kemampuan membaca dan menulisnya diperoleh dari belajar kepada ayahnya, sahabatnya, saudaranya, dan iparnya. Beliau dididik sendiri melalui cara pengajian yaitu dengan menirukan kalimat-kalimat atau bacaan yang diajarkan oleh ayahnya.
Selama beliau menuntut ilmu di Mekah tampaknya Tafsir al-Manar yang dikarang oleh Muhammad Abduh mendapat perhatian serius dan yang paling disenanginya, tafsir ini memberikan cahaya terang dalam hatinya serta membuka akalnya untuk berfikir jauh kedepan tentang eksitensi  Islam di Indonesia yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah kolonial Belanda, ketika ia belajar di Mekah itulah, mempunyai kesempatan baik untuk dapat bertukar pikiran langsung dengan Rasyid Ridha, yang diperkenalkan KH Bakir. Ide reformasi telah meresap dihatinya, dengan dasar ilmu-ilmu yang diperolehnya, demikian pula pengalaman keagamaan yang beliau alami di Mekah, mendorong beliau melakukan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum Muslimin di tanah air.
Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah. Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun di sana. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlotul Ulama. Pada tahun 1912, Dahlan mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kyai yakni KH. Muhammad Shaleh dibidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa); dari KH. Raden Dahlan dibidang ilmu falak (astronomi); dari Kyai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock dibidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan dibidang ilmu pengobatan dan racun binatang.
3.       Berdirinya dan Tujuan Muhammadiyah
Pada 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Beliau ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak dibidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Beliau dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping itu juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah semakin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia-Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Pada tahun 1909 dengan maksud mengajar agama, Ahmad Dahlan masuk Budi Utomo. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota Budi Utomo sehingga para anggota menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kyai pemimpinnya meninggal dunia. Saran itu kemudian ditindaklanjuti Ahmad Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama. Organisasi ini bergerak dibidang kemasyarakatan dan pendidikan, melalui organisasi ini beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Muhammadiyah bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks. Pendirian Ahmad Dahlan mengenai pentingnya organisasi bagi pelaksanaan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, memang mutlak meskipun dalam hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan. Ada tujuan yang tidak dapat sampai kepada tujuan yang dicita-citakan, hal ini di sebabkan sarana itu tidak tepat atau kurang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

4.       Pemikiran tentang Islam
Ada beberapa faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah:
Yang merupakan faktor intern adalah:
·         Kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.
·         Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
·         Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat
Ahmad Dahlan semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu pembaruan ajaran agama (mushlih) pasti menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko. Dengan kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban yang diajarkannya.
Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh beliau dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Dahlan. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.
5.       Pemikirannya Tentang Pendidikan
Metode yang ditawarkan KH. Ahmad Dahlan merupakan sintesis antara metode pendidikan Belanda dengan metode pendidikan tradisional. Amal usaha Muhammadiyah merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Istilah pendidikan di sini dipergunakan dalam konteks yang luas tidak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi muda, dalam konteks ini termasuk dalam pengertian pendidikan adalah kegiatan pengajian, tabligh dan sejenisnya.
Adapun tujuan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan yaitu membentuk manusia yang:
·         Alim dalam ilmu agama
·         Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan umum
·         Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dalam menyantuni nilai-nilai keagamaan pada masyarakat.
Rumusan tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan pesantren yang hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang salih dan mendalami ilmu agama. Di dalam system pendidikan pesantren tidak diajarkan sama sekali pelajaran dan pengetahuan umum serta menggunakan tulisan latin. Semua kitab dan tulisan yang diajarkan menggunakan bahasa dan tulisan Arab. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan “sekuler” yang di dalamnya tidak diajarkan ilmu agama sama sekali. Pelajaran di sekolah ini menggunakan huruf latin. Akibat dualisme pendidikan tersebut dilahirkan dua kutub inteligensia; lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan lulusan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan itu KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi beliau keduanya tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Di bidang pendidikan, Ahmad Dahlan mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu, Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau juga memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.
6.       Kekhasan pemikirannya
Segi menarik yang lain dari sekolah Muhammadaiyah, pemisahan Bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri merupakan langkah yang menentukan dalam pandangan kaum pembaharu. Di pondok pesantren, bahasa Arab diajarkan sebagai bagian membaca Al-Qur’an. Setelah mempelajari huruf Arab dan cara pengucapan, ayat-ayat Al-Qur’an dipelajari secara urut, dan tafsir ayat-ayat tertentu diberikan dalam bahasa Jawa. Tidak ada pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa. Sekolah Muhammadiyah mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yanga berdiri sendiri. Ini telah dicoba sebagai pembaruan dalam mempelajari Al-Qur’an dikalangan masyarakat Jawa di Mekah akhir abad ke-19, ketika Snouck Hurgronje tinggal di sana (Hurgronje, 1931: 267).
Dengan sistem pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau yang berilmu agama saja. Gerakan pembaruan Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunyai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat.
Sumber Rujukan             
- http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan
- http://www.pendongeng.com/biografi-tokoh-indonesia/528-biografi-kh-ahmad-dahlan.html

Mitos Matasiri yang Berkembang Di Kalangan Masyarakat Nelayan Desa Brondong Lamongan dan Sekitarnya



PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Brondong begitulah masyarakat sekitar menyebut desa saya. Berada tepat di Pantai utara Kabupaten Lamongan Jawa Timur, sebelah timur kecamatan Palang Tuban dan sebelah barat kecamatan Paciran Lamongan. Mayoritas masyarakat Brondong bermatapencarian sebagai nelayan, terdapat banyak pelabuhan di bagian utara desa saya namun yang terbesar adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Lamongan (Tempat Pelelangan Ikan). Di pelabuhan ini masyarakat nelayan Brondong menggantungkan nasibnya. Bukan hanya sebagai nelayan, masyarakat Brondong juga banyak yang menjadi kuli di pabrik-pabrik ikan milik asing. Belum banyak lapangan kerja milik masyarakat sendiri, sehingga dapat dikatakan jika masyarakat Brondong belum tercukupi dalam bidang lapangan pekerjaan.
Terdapat banyak tradisi lisan yang menyebar di desa saya, tradisi lisan yang akan tulis agar menjadi sejarah lokal yaitu Matasiri. Mata Siri adalah mitos yang beredar luas dikalangan masyarakat nelayan desa saya, matasiri merupakan nama penyakit yang sering diderita oleh para nelayan Brondong dan sekitarnya. Matasiri dianggap penyakit ghaib dan dapat merenggut nyawa. Alasan saya memilih matasiri sebagai materi untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah lokal adalah untuk meluruskan dan mengungkap mitos matasiri yang meluas dikalangan masyarakat nelayan desa saya, semoga ulasan saya bermanfaat bagi teman-teman untuk menambah pengetahuan.
B.      RUMUSAN MASALAH
1.       Bagaimana asal-usul mitos penyakit matasiri?
2.       Bagaimana unsur mistis matasiri?
3.       Bagaimana pandangan medis dan kebenaran tentang penyakit matasiri?
4.       Bagaimana pengaruh mitos dan kebenaran mata siri kepada masyarakat Brondong dan sekitarnya?

C.      TUJUAN
1.       Memenuhi tugas mata kuliah sejarah lokal.
2.       Mengetahui asal-usul mitos penyakit matasiri.
3.       Mengetahui unsur-unsur mistis penyakit matasiri.
4.       Mengetahui pandangan medis dan kebenaran tentang penyakit matasiri.
5.       Mengetahui pengaruh mitos dan kebenaran penyakit matasiri kepada masyarakat nelayan desa Brondong dan sekitarnya.

D.      METODE PENELITIAN
Penelitian tradisi lisa desa Brondong ini dilakukan dengan metode penelitian wawancara. Sumber wawancara saya adalah bapak Tulus, menantu tetua almarhum mbah Suwaji. Bapak Tulus pernah menjadi bela perahu yang berlayar ke perairan matasiri tahun 80-an.


PEMBAHASAN
1.       Bagaimana asal-usul mitos penyakit matasiri?
Tidak banyak orang yang mengetahui asal-usul mitos matasiri, namun menurut sumber yang saya terima dapat dijelaskan bahwa Matasiri adalah mitos berupa penyakit yang disebabkan oleh angin di perairan Matasiri Kecamatan Pulau Sembilan Kotabaru Kalimantan Selatan, berada di tengah-tengah pulau Kalimantan dan Jawa. Di perairan Matasiri memang terkenal sebagai daerah strategis untuk menangkap ikan.
Mitos yang terdengar dikalangan nelayan, Matasiri adalah nama seorang putri cantik pantai selatan Kalimantan, dia adalah anak kepala suku di daerah itu. Suatu ketika putri Matasiri bertemu dengan laki-laki nelayan dari daerah pulau Jawa, mereka saling mencintai dan terjadilah sesuatu yang tidak layak mereka lakukan sebelum menikah. Setelah sekian lama mereka berhubungan, laki-laki nelayan itu kembali berlayar dan berjanji akan kembali kepadanya.
Sampai akhirnya si putri mengandung anak laki-laki nelayan tersebut, sekian lama putri menunggu sang nelayan tak kunjung kembali tak terasa perut putri semakin membesar. Mengetahuinya, ayah sang putri yang merupakan kepala suku murka dan mengasingkan putri. Putri yang merasa tidak berharga lagi memutuskan untuk bunuh diri dan bersumpah, “jika ada laki-laki nelayan kemari (perairan Matasiri) dan ia tertidur, maka dia akan mati”.
Banyak pantangan yang ditujukan untuk para nelayan ketika berlayar di sana, mereka dilarang untuk tidur pagi antara pukul 08.00-12.00, berkata kotor atau apapun yang tidak bermanfaat, bersikap sombong. Dan bagi nelayan yang masih jejaka dilarang untuk ikut berlayar ke sana, karena bukan hanya sukmanya yang akan tertinggal namun raganya pun ikut hilang ditelan oleh bumi perairan matasiri. Namun menurut cerita di desa saya, masih banyak nelayan jejaka yang ke sana dan hilang tidak tau kemana perginya.
Menurut bapak Tulus, sumber wawancara saya mitos ini sudah beranak-akar dijiwa masyarakat desa saya. Namun demikian tak banyak orang yang mau membahas mitos ini karena dianggap pamali (larangan), hal ini menyebabkan minimnya sumber yang saya dapat melalui wawancara.
2.       Bagaimana unsur mistis matasiri?
Unsur mistis tentang matasiri adalah cerita orang yang nelayan kesana (perairan matasiri) sekembalinya dia dari berlayar, dia menjadi orang yang tidak berakal (linglung), matanya memutih, pucat, dll. Menurut teman-temannya yang seperahu dengannya selama mereka berlayar, dia tertidur pulas dan ketika bangun selang beberapa jam dia sudah dalam keadaan seperti itu.
Meskipun tidak masuk akal, namun tetua-tetua di desa saya menganggap kejadian ini disebabkan oleh kutukan sang putri. Tetua di desa saya percaya jika itu ulah sang putri matasiri karena ketika nelayan tersebut dibawa ke orang pintar (dukun), dia mengatakan bahwa sukma nelayan itu sudah tidak ada di dalam raganya, sukmanya ditarik roh ghaib yang ada di laut dan membiarkan raganya mati dengan sendirinya.
3.       Bagaimana pandangan medis dan kebenaran tentang mitos penyakit matasiri?
Menurut sumber yang saya dapat tentang pulau matasiri adalah pulau tersebut merupakan wilayah endemik malaria. Malaria di pulau matasiri tergolong malaria ganas, yaitu malaria jenis Falsiparum. Kabarnya masyarakat di pulau itu tidak menjalankan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), sehingga dapat dimungkinkan hal tersebut yang membuat perkembangbiakan nyamuk menjadi pesat.
Menurut pandangan medis, orang yang terkena penyakit matasiri dengan gejala-gejala yang telah disebutkan di atas mereka sebenarnya digigit nyamuk malaria ketika tidur di perairan matasiri. Nyamuk malaria banyak berkeliaran sekitar jam 08.00-12.00 pagi, gejala penyakit matasiri dengan malaria banyak ditemukan kesamaan. Contohnya demam (panas dan dingin), menggigil, nyeri persendian, sakit kepala, muntah-muntah dan kerusakan retina (retina yang memutih). Gejala paling khas dari penyakit malaria adalah badan terasa dingin yang kemudian diikuti dengan demam panas yang berlangsung sekitar empat sampai enam jam. Gejala penyakit malaria bisa sangat menyerupai beberapa gejala yang ditimbulkan oleh penyakit lain seperti tifus, dan demam berdarah, sehingga memerlukan tes darah di laboratorium untuk mengetahui kepastian adanya parasit plasmodium dalam darah.
Kebenaran mitos penyakit malaria, menurut saya sudah diungkap dan dijelaskan bahwa penyakit matasiri adalah mitos, cerita tentang kutukan putri matasiri merupakan cerita rakyat saja. Tentang larangan dan pantangan ketika berlayar ke sana dapat dirasionalkan memang disarankan tidak tidur pada jam-jam nyamuk malaria berkeliaran (08.00-12.00 pagi), kemudian untuk berkata kotor dan apapun yang tidak bermanfaat memang merupakan tindakan yang kurang baik menurut spiritual atau agama manapun.
4.       Bagaimana pengaruh mitos dan kebenaran mata siri kepada masyarakat Brondong dan sekitarnya?
Dulu ketika belum terungkap tentang kebenaran mitos penyakit matasiri, masyarakat nelayan Brondong merasa tidak leluasa mencari daerah untuk menangkap ikan, mitos tersebut membatasi ruang gerak para nelayan. Kebanyakan nelayan yang mengetahui tentang mitos ini berpikir lebih baik tidak melewatinya, mencari aman.
Masyarakat cenderung untuk menutup matanya agar tidak tergiur dengan apapun yang ada di sana, masyarakat takut jika selanjutnya dirinya adalah korban dari sang putri matasiri. Sehingga mitos ini menjadi momok yang sangat menakutkan dalam perjalanan nelayan untuk mencari ikan dan merauk untung yang banyak.
Namun setelah terungkapnya mitos tentang putri matasiri ini, masyarakat nelayan di desa saya berana dan bahkan menjadikan perairan matasiri tujuan mencari ikan. Masyarakat nelayan merasakan dampaknya dalam merauk keuntungan, disamping ikannya banyak daerah ini jauh dari ombak besar. Dengan pengetahuan yang telah mereka dapatkan tentang kasus ini, mereka lebih hati-hati dan berpikir positif tentang apa saja yang terjadi ketika mereka berlayar.

Efeknya sangat terasa pada nelayan-nelayan yang dulu tidak mengetahui, sekarang menjadi mengetahui. Banyak nelayan yang menambah penghasilannya sehingga dapat membuat perahu sendiri dan bela (anak buah kapal). Dengan bekal pengetahuan nelayan desa saya berangkat dengan tenang dan selalu berpikir positif.
KESIMPULAN
Penyakit matasiri hanya mitos, kebenarannya sudah diungkapkan dengan pengetahuan. Penyakit yang selama ini diduga matasiri atau kutukan seorang putri ternyata adalah penyakit malaria. Menarik kesimpulannya adalah bahwa segala sesuatu dapat dirasionalkan jika segala aspeknya dapat diamati, dapat dikaji, dan dihubungkan. Dengan pengetahuan, masyarakat nelayan dapat menemukan dan mengungkapkan kasus-kasus yang berbau irrasional menjadi sesuatu yang rasional. Semoga desa saya mengadakan pemberdayaan SDM, agar dapat memenuhi kebutuhan pengetahuan di masa yang mendatang.

PENUTUP
Demikian tradisi lisan yang beredar di desa saya, saya menerima segala bentuk saran yang bersifat membangun. Saya mengucapkan permintaan maaf dan semoga bermanfaat bagi teman-teman sekalian.