PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Brondong
begitulah masyarakat sekitar menyebut desa saya. Berada tepat di Pantai utara
Kabupaten Lamongan Jawa Timur, sebelah timur kecamatan Palang Tuban dan sebelah
barat kecamatan Paciran Lamongan. Mayoritas masyarakat Brondong
bermatapencarian sebagai nelayan, terdapat banyak pelabuhan di bagian utara
desa saya namun yang terbesar adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong
Lamongan (Tempat Pelelangan Ikan). Di pelabuhan ini masyarakat nelayan Brondong
menggantungkan nasibnya. Bukan hanya sebagai nelayan, masyarakat Brondong juga
banyak yang menjadi kuli di pabrik-pabrik ikan milik asing. Belum banyak
lapangan kerja milik masyarakat sendiri, sehingga dapat dikatakan jika masyarakat
Brondong belum tercukupi dalam bidang lapangan pekerjaan.
Terdapat banyak
tradisi lisan yang menyebar di desa saya, tradisi lisan yang akan tulis agar
menjadi sejarah lokal yaitu Matasiri. Mata Siri adalah mitos yang beredar luas
dikalangan masyarakat nelayan desa saya, matasiri merupakan nama penyakit yang
sering diderita oleh para nelayan Brondong dan sekitarnya. Matasiri dianggap
penyakit ghaib dan dapat merenggut nyawa. Alasan saya memilih matasiri sebagai
materi untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah lokal adalah untuk meluruskan
dan mengungkap mitos matasiri yang meluas dikalangan masyarakat nelayan desa
saya, semoga ulasan saya bermanfaat bagi teman-teman untuk menambah
pengetahuan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
asal-usul mitos penyakit matasiri?
2. Bagaimana
unsur mistis matasiri?
3. Bagaimana pandangan
medis dan kebenaran tentang penyakit matasiri?
4. Bagaimana
pengaruh mitos dan kebenaran mata siri kepada masyarakat Brondong dan
sekitarnya?
C. TUJUAN
1. Memenuhi
tugas mata kuliah sejarah lokal.
2. Mengetahui
asal-usul mitos penyakit matasiri.
3. Mengetahui
unsur-unsur mistis penyakit matasiri.
4. Mengetahui
pandangan medis dan kebenaran tentang penyakit matasiri.
5. Mengetahui
pengaruh mitos dan kebenaran penyakit matasiri kepada masyarakat nelayan desa
Brondong dan sekitarnya.
D. METODE PENELITIAN
Penelitian tradisi
lisa desa Brondong ini dilakukan dengan metode penelitian wawancara. Sumber
wawancara saya adalah bapak Tulus, menantu tetua almarhum mbah Suwaji. Bapak
Tulus pernah menjadi bela perahu yang
berlayar ke perairan matasiri tahun 80-an.
PEMBAHASAN
1. Bagaimana asal-usul mitos penyakit matasiri?
Tidak
banyak orang yang mengetahui asal-usul mitos matasiri, namun menurut sumber
yang saya terima dapat dijelaskan bahwa Matasiri adalah mitos berupa penyakit
yang disebabkan oleh angin di perairan Matasiri Kecamatan Pulau Sembilan
Kotabaru Kalimantan Selatan, berada di tengah-tengah pulau Kalimantan dan Jawa.
Di perairan Matasiri memang terkenal sebagai daerah strategis untuk menangkap
ikan.
Mitos yang
terdengar dikalangan nelayan, Matasiri adalah nama seorang putri cantik pantai
selatan Kalimantan, dia adalah anak kepala suku di daerah itu. Suatu ketika
putri Matasiri bertemu dengan laki-laki nelayan dari daerah pulau Jawa, mereka
saling mencintai dan terjadilah sesuatu yang tidak layak mereka lakukan sebelum
menikah. Setelah sekian lama mereka berhubungan, laki-laki nelayan itu kembali
berlayar dan berjanji akan kembali kepadanya.
Sampai
akhirnya si putri mengandung anak laki-laki nelayan tersebut, sekian lama putri
menunggu sang nelayan tak kunjung kembali tak terasa perut putri semakin membesar.
Mengetahuinya, ayah sang putri yang merupakan kepala suku murka dan
mengasingkan putri. Putri yang merasa tidak berharga lagi memutuskan untuk
bunuh diri dan bersumpah, “jika ada laki-laki nelayan kemari (perairan Matasiri)
dan ia tertidur, maka dia akan mati”.
Banyak
pantangan yang ditujukan untuk para nelayan ketika berlayar di sana, mereka
dilarang untuk tidur pagi antara pukul 08.00-12.00, berkata kotor atau apapun
yang tidak bermanfaat, bersikap sombong. Dan bagi nelayan yang masih jejaka
dilarang untuk ikut berlayar ke sana, karena bukan hanya sukmanya yang akan tertinggal
namun raganya pun ikut hilang ditelan oleh bumi perairan matasiri. Namun menurut
cerita di desa saya, masih banyak nelayan jejaka yang ke sana dan hilang tidak
tau kemana perginya.
Menurut
bapak Tulus, sumber wawancara saya mitos ini sudah beranak-akar dijiwa masyarakat
desa saya. Namun demikian tak banyak orang yang mau membahas mitos ini karena
dianggap pamali (larangan), hal ini menyebabkan minimnya sumber yang saya dapat
melalui wawancara.
2. Bagaimana unsur mistis matasiri?
Unsur
mistis tentang matasiri adalah cerita orang yang nelayan kesana (perairan
matasiri) sekembalinya dia dari berlayar, dia menjadi orang yang tidak berakal
(linglung), matanya memutih, pucat, dll. Menurut teman-temannya yang seperahu
dengannya selama mereka berlayar, dia tertidur pulas dan ketika bangun selang
beberapa jam dia sudah dalam keadaan seperti itu.
Meskipun
tidak masuk akal, namun tetua-tetua di desa saya menganggap kejadian ini
disebabkan oleh kutukan sang putri. Tetua di desa saya percaya jika itu ulah
sang putri matasiri karena ketika nelayan tersebut dibawa ke orang pintar
(dukun), dia mengatakan bahwa sukma nelayan itu sudah tidak ada di dalam
raganya, sukmanya ditarik roh ghaib yang ada di laut dan membiarkan raganya
mati dengan sendirinya.
3. Bagaimana pandangan medis dan kebenaran tentang
mitos penyakit matasiri?
Menurut
sumber yang saya dapat tentang pulau matasiri adalah pulau tersebut merupakan
wilayah endemik malaria. Malaria di pulau matasiri tergolong malaria ganas,
yaitu malaria jenis Falsiparum.
Kabarnya masyarakat di pulau itu tidak menjalankan PHBS (Pola Hidup Bersih dan
Sehat), sehingga dapat dimungkinkan hal tersebut yang membuat perkembangbiakan
nyamuk menjadi pesat.
Menurut
pandangan medis, orang yang terkena penyakit matasiri dengan gejala-gejala yang
telah disebutkan di atas mereka sebenarnya digigit nyamuk malaria ketika tidur
di perairan matasiri. Nyamuk malaria banyak berkeliaran sekitar jam 08.00-12.00
pagi, gejala penyakit matasiri dengan malaria banyak ditemukan kesamaan.
Contohnya demam (panas dan dingin), menggigil, nyeri persendian, sakit
kepala, muntah-muntah dan kerusakan retina (retina yang memutih). Gejala paling
khas dari penyakit malaria adalah badan terasa dingin yang kemudian
diikuti dengan demam panas yang berlangsung sekitar empat sampai enam jam.
Gejala penyakit malaria bisa sangat menyerupai beberapa gejala yang ditimbulkan
oleh penyakit lain seperti tifus, dan demam berdarah, sehingga memerlukan tes
darah di laboratorium untuk mengetahui kepastian adanya parasit plasmodium dalam darah.
Kebenaran mitos
penyakit malaria, menurut saya sudah diungkap dan dijelaskan bahwa penyakit
matasiri adalah mitos, cerita tentang kutukan putri matasiri merupakan cerita
rakyat saja. Tentang larangan dan pantangan ketika berlayar ke sana dapat
dirasionalkan memang disarankan tidak tidur pada jam-jam nyamuk malaria
berkeliaran (08.00-12.00 pagi), kemudian untuk berkata kotor dan apapun yang
tidak bermanfaat memang merupakan tindakan yang kurang baik menurut spiritual
atau agama manapun.
4. Bagaimana pengaruh mitos dan kebenaran mata
siri kepada masyarakat Brondong dan sekitarnya?
Dulu
ketika belum terungkap tentang kebenaran mitos penyakit matasiri, masyarakat
nelayan Brondong merasa tidak leluasa mencari daerah untuk menangkap ikan,
mitos tersebut membatasi ruang gerak para nelayan. Kebanyakan nelayan yang
mengetahui tentang mitos ini berpikir lebih baik tidak melewatinya, mencari
aman.
Masyarakat
cenderung untuk menutup matanya agar tidak tergiur dengan apapun yang ada di
sana, masyarakat takut jika selanjutnya dirinya adalah korban dari sang putri
matasiri. Sehingga mitos ini menjadi momok yang sangat menakutkan dalam
perjalanan nelayan untuk mencari ikan dan merauk untung yang banyak.
Namun
setelah terungkapnya mitos tentang putri matasiri ini, masyarakat nelayan di
desa saya berana dan bahkan menjadikan perairan matasiri tujuan mencari ikan.
Masyarakat nelayan merasakan dampaknya dalam merauk keuntungan, disamping
ikannya banyak daerah ini jauh dari ombak besar. Dengan pengetahuan yang telah
mereka dapatkan tentang kasus ini, mereka lebih hati-hati dan berpikir positif
tentang apa saja yang terjadi ketika mereka berlayar.
Efeknya
sangat terasa pada nelayan-nelayan yang dulu tidak mengetahui, sekarang menjadi
mengetahui. Banyak nelayan yang menambah penghasilannya sehingga dapat membuat
perahu sendiri dan bela (anak buah
kapal). Dengan bekal pengetahuan nelayan desa saya berangkat dengan tenang dan
selalu berpikir positif.
KESIMPULAN
Penyakit matasiri hanya mitos, kebenarannya
sudah diungkapkan dengan pengetahuan. Penyakit yang selama ini diduga matasiri
atau kutukan seorang putri ternyata adalah penyakit malaria. Menarik
kesimpulannya adalah bahwa segala sesuatu dapat dirasionalkan jika segala
aspeknya dapat diamati, dapat dikaji, dan dihubungkan. Dengan pengetahuan, masyarakat
nelayan dapat menemukan dan mengungkapkan kasus-kasus yang berbau irrasional
menjadi sesuatu yang rasional. Semoga desa saya mengadakan pemberdayaan SDM,
agar dapat memenuhi kebutuhan pengetahuan di masa yang mendatang.
PENUTUP
Demikian
tradisi lisan yang beredar di desa saya, saya menerima segala bentuk saran yang
bersifat membangun. Saya mengucapkan permintaan maaf dan semoga bermanfaat bagi
teman-teman sekalian.