Minggu, 09 November 2014

Tokoh Iskandar Muda



Pada mulanya ada seorang pangeran dari Lamri yang bernama Munawar Syah, keturunan Iskandar Zulkarnain. Dari seorang putri berdarah putih, Munawar mendapatkan dua putra, Syah Muhammad dan Syah Mahmud, mereka memperistri putri kahyangan. Dar ul-Kamal dan Mahkota Alam dikatakan dulu merupakan dua tempat pemukiman bertetangga dan yang gabungannya merupakan asal muasal Aceh Dar us-Salam.
·                    -Nama Iskandar Muda
Kronik yang diterjemahkan Dulaurier megatakan bahwa sang pangeran diberi nama ISkandar Muda ketika penobatannya, Paduka Sri Sultan ISkandar Muda Johan berdaulat itu memerintahkan diadakannya kompilasi tarakata atau perintah-perintah raja (monopoli). Djajadiningrat menyebut adanya sebuah mas dari Aceh dengan tulisan Iskandar Muda, “anak Mansur”.
·                    -Paham Kekuasaan
Iskandar dan penasehatnya telah memikirkan cara terbaik untuk membina rakyat, mereka telah menyusun uraian panjang, tidak hanya mengenai hak-hak raja tapi juga mengenai kewajibannya, mereka melakukan dengan penuh tanggungjawab apa yang menurut pendapat mereka adalah tugas mereka. Menurut adat Aceh, asas pokok ada sepuluh:
a.       Takhta yang bertumpu pada kekuasaan
b.      Ketegasan dalam memerintah
c.       Kesabaran apabila sedang murka
d.      Mengangkat yang lemah
e.      Merendahkan yang besar kuasanya
f.        Menghormati yang hina
g.       Merendahkan yang sombong
h.      Mematika yang hidup dan menghidupkan yang mati
i.         Keikhlasan waktu mendengarkan orang yang menghadap 
j.        Kemansyuran dalam peradilan

- Watak Iskandar Yang Tidak Stabil
Raja suka begitu saja naik pitam “dan selama suasana hatinya demikian”, kata orang Normandie. Iskandar suka jatuh pingsan dan Beaulieu menceritakan bahwa ia mendapat izin untuk mengambil lada di Tiku pada suatu hari sultan dilihatnya baru saja sembuh dari salah satu keadaan lemahnya itu. Iskandar boleh disangka kadang kala bahkan menuruti keinginannya untuk melampaui batas.
·                    -  Kebesaran Iskandar
Terdapat teks yang mengungkapkan dengan jelas anggapan mulia Iskandar mengenai peran dan kekuasaannya, teks tersebut melaporkan semacam pengakuan yang disampaikan Iskandar kepada Beaulieu dan yang diceritakan kembali dengan setia tanpa memakai gaya “aku”. Mengungkapkan kesulitan yang pernah ia alami dan masih tetap dialaminya. Untuk mengakhiri gambaran Iskandar dapat digaris bawahi ia sering bertuah sampai ke hal-hal yang sepele, sehingga ada yang menghargainya dan menganggapnya tukang sihir ulung. Tokoh Iskandar kemudia dibesar-besarkan secara berlebihan seperti lazimnya dongeng. Pastilah ada baiknya menetapkan dengan tegas batas-batas sejarahnya.
Sumber-sumber:

Penulis : Denys Lombard
Penerjemah : Winarsih Arifin
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun : 2007 (Cetakan Kedua)
Tebal : 408 Halaman
 

Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Indonesia



Kerajaan Nunusaku
1.       Kerajaan Nunusaku
Kerajaan Nunusaku adalah salah satu kerajaan Islam di Maluku. Selain Ternate dan Tidore, Nunusaku memiliki zamannya ketika mengalami kejayaan. Banyak orang-orang yang hanya mengetahui tentang kerajaan islam Ternate dan Tidore, sebenarnya masih banyak lagi kerajaan-kerajaan islam di Maluku. Karena keterbatasan sumber, maka saya berusaha dengan gigih agar teman-teman dapat memahami kerajaan Nunusaku dan bermanfaat bagi teman-teman.
Nama Nunusaku sendiri diambil dari peristiwa yang pernah dialami oleh masyarakatnya, saat itu masyarakat menemukan gunung yang berbentuk nun sukun dan disekitarnya terdapat pohon beringin bercabang dua setelah terjadinya banjir bandang. Sehingga dicetuskannya nama Nunusaku. Kerajaan Nunusaku awal pemerintahannya dipimpin oleh Upu Latu yang bersifat kepemimpinan tunggal, setelah Upu Latu pertama wafat maka kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya yang sulung, dengan gelar Upu Latu Mena. Dibangunlah sistem pemerintahan Latu yang dibantu oleh Patti.
Sumber yang saya dapatkan tentang kerajaan ini buram, kabarnya kerajaan Nunusaku tidak runtuh, pemerintahannya tetap dipimpin oleh seorang Latu dengan dibantu Patti, menurut sumber yang saya dapat seluruh perangkat pemerintahannya masih tetap berlanjut hanya kekuasaan pemerintahan berpindah ke Sahulau. Sahulau adalah kerajaan islam di Maluku yang merupakan kerabat Nunusaku. Pada pemerintahan kerajaan Sahulau inilah lahir ide-ide brilian seperti masalah rentang kendali maka dibentuklah kerajaan-kerajaan kecil (provinsi dan kabupaten) yang dipimpin juga oleh seorang Latu. Masa kejayaan kerajaan Sahulau berada pada masa pemerintahaan Ina Latu Kabasaran, seorang wanita cantik dan berwibawa. Gelar kabasaran ini adalah ucapan orang-orang melayu pada waktu itu. Karena kekuasaan kerajaan Sahulau sampai ke tanah melayu..
2.       Bidang Dakwah Islam
Agama Islam masuk ke Maluku dibawa oleh Mubaligh dari Jawa jaman Sunan Giri dan dari Malaya. Raja Maluku yang pertama masuk Islam adalah Sultan Ternate bernama Marhum pada tahun 1465-1486, atas pengaruh Maulana Husain saudagar dari Jawa. Dakwah Islam di Maluku menghadapi dua tantangan, yaitu datang dari orang-orang yang masih animisme dan dari orang Portugis yang mengkristenkan penduduk Maluku. Sultan Sairun adalah tokoh yang paling keras melawan orang Portugis dan usaha Kristenisasi di Maluku. Tokoh misi Katholik yang pernah di Maluku ialah Fransiscus Zaverius tahun 1546. Ia berhasil mengkhatolikkan sebagian dari penduduk Maluku.
Masuknya Islam di daerah Maluku Tengah adalah melalui pedagang Islam yang datang dari Jawa Timur. Pusat Islam di Jawa Timur sesudah runtuhnya Majapahit adalah Gresik. Dari Gresik datang ulama Islam bersama para pedagang ke Pulau Ambon, dan mereka semua berpusat di kota pelabuhan Hitu. Jadi, Hitu menjadi pusat penyebaran Islam pada daerah sekitarnya pada tahun 1500.
Masuknya agama Islam kepada penduduk Maluku mengakibatkan timbulnya proses Islamisasi. Proses religius cultural berpengaruh pada bidang politik pemerintahan sehingga timbul Kerajaan Islam. Islam juga memperkaya hukum adat setempat. Hukum Islam nampak bergandengan dengan hukum adat. Penggunaan huruf Arab oleh raja-raja, bangsawan, dan penduduk setempat memperkaya pula bahasa daerah. Dari sudut kultur, agama Islam ikut pula menentukan corak kebudayaan masyarakat Maluku yang bercorak Islam.
Pada tahun 1564 telah disepakati suatu perjanjian oleh Portugis dan Ternate. Untuk merayakan penandatanganan perjanjian ini, Portugis mengundang Sultan Khairun untuk datang ke kapal Portugis. Sultan Khairun tidak menyukai usaha Kristenisasi oleh orang Portugis terhadap rakyatnya yang sudah memeluk Islam. Di saat perjamuan di atas kapal Portugis itu, Sultan Khairun ditikam secara keji oleh salah seorang pengawal dari Gubernur De Mesquite sehinga beliau tewas.
Setelah kejadian tersebut putra Sultan Khairun, yaitu Baabullah naik tahta menggantikannya. Sultan Baabullah (1570-1583) memaklumkan perang kepada Portugis. Sultan Tidore berdiri di belakang Ternate. Benteng pertahanan Portugis di Ambon diserbu pasukan Sultan Baabullah sehingga bendera Portugis diturunkan orang Ternate dan Tidore dari bentengnya. Kemudian benteng Portugis ini dibakar hingga habis dan orang Portugis yang masih hidup menyingkir ke Malaka.
Sampai tahun 1580, Ternate dengan Sultan Baabullah telah meluaskan kekuasannya ke pulau-pulau sekelilingnya sehingga membentang dari Pulau Mindanau (Filiphina) sampai ke Sumbawa (ini dari utara ke selatan) dan dari Irian ke Sulawesi (dari timur ke barat) termasuk Pulau Buton. Juga Ternate mengirimkan para pendakwah untuk mengajak masuk Islam kepada Buton, Makassar (Ujung Pandang), dan Gowa di Sulawesi. Sultan Baabullah meninggal dunia pada tahun 1583.
Masjid sebagai bangunan-bangunan sakral dari agama Islam mulai dikenal di Maluku meskipun corak bangunannya itu sendiri mempunyai corak Indonesia dengan atap yang berunden. Dengan demikian dilihat dari sudut kultur, maka agama Islam turut menentukan corak kebudayaan di daerah Maluku, yaitu kebudayaan yang bercorak Islam.
3.       Bidang Pendidikan
Raja Maluku yang terkenal dibidang pendidikan dan dakwah Islam ialah sultan Zainudin Abidin (1486-1500). Pada masa kerajaan islam di Maluku, pendidikan yang diberikan kepada generasi ke generasi adalah pendidikan tentang islam. Contohnya tentang hukum islam, syariat islam, membaca al-quran, dan lain-lain. Maksudnya kegiatan utama pada saat itu adalah pengislamisasian masyarakat-masyarakat di sekitar kerajaan. Mereka belum menyepakati tentang pembuatan lembaga-lembaga resmi pendidikan, tetapi membuka banyak pondok pesantren untuk santri-santri yang menekuni agama islam.
Pemeluk Islam pertama adalah Kapiten Nunusaku Kapitan Iho Lussy yang berguru kepada Maulana Zainal Abidin, setelah Iho Lussy memperoleh ilmu agama Islam yang cukup, maka beliau pun aktif berdakwah seperti gurunya. Sebagian besar penduduk di daerah Seram memeluk agama Islam adalah berkat jasa kedua pendakwah ini. Setelah Kapitan Iho Lussy wafat maka tugas dakwah Islam dilanjutkan oleh anaknya yaitu Muhammad Lussy. Jadi yang memimpin Kerajaan Sahulau masih keturunan langsung dari kerajaan Nunusaku.
Pada zaman ini pendidikan sekuler tidak diutamakan oleh masyarakat Maluku. Mereka kurang mempelari tentang ilmu-ilmu umum namun konsen pada ilmu-ilmu kerohanian dan agamanya saja. Pemerintah juga belum memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk belajar hal-hal yang baru. Secara tidak sadar kegiatan mentrasformasikan pengetahuan tentang islam ke masyarakat, sama seperti memberikan pendidikan kepada mereka tetapi perbedaannya pada masa ini pendidikan yang disampaikan adalah pendidikan tentang keagamaan atau religius.

Sumber-sumber:
http://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/15/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia