Pada mulanya
ada seorang pangeran dari Lamri yang bernama Munawar Syah, keturunan Iskandar
Zulkarnain. Dari seorang putri berdarah putih, Munawar mendapatkan dua putra,
Syah Muhammad dan Syah Mahmud, mereka memperistri putri kahyangan. Dar ul-Kamal
dan Mahkota Alam dikatakan dulu merupakan dua tempat pemukiman bertetangga dan
yang gabungannya merupakan asal muasal Aceh Dar us-Salam.
· -Nama Iskandar Muda
Kronik yang
diterjemahkan Dulaurier megatakan bahwa sang pangeran diberi nama ISkandar Muda
ketika penobatannya, Paduka Sri Sultan ISkandar Muda Johan berdaulat itu
memerintahkan diadakannya kompilasi tarakata atau perintah-perintah raja
(monopoli). Djajadiningrat menyebut adanya sebuah mas dari Aceh dengan tulisan
Iskandar Muda, “anak Mansur”.
·
-Paham Kekuasaan
Iskandar dan
penasehatnya telah memikirkan cara terbaik untuk membina rakyat, mereka telah
menyusun uraian panjang, tidak hanya mengenai hak-hak raja tapi juga mengenai
kewajibannya, mereka melakukan dengan penuh tanggungjawab apa yang menurut
pendapat mereka adalah tugas mereka. Menurut adat Aceh, asas pokok ada sepuluh:
a.
Takhta yang bertumpu pada kekuasaan
b.
Ketegasan dalam memerintah
c.
Kesabaran apabila sedang murka
d.
Mengangkat yang lemah
e.
Merendahkan yang besar kuasanya
f.
Menghormati yang hina
g.
Merendahkan yang sombong
h.
Mematika yang hidup dan menghidupkan yang mati
i.
Keikhlasan waktu mendengarkan orang yang
menghadap
j.
Kemansyuran dalam peradilan
- Watak Iskandar Yang Tidak Stabil
Raja suka
begitu saja naik pitam “dan selama suasana hatinya demikian”, kata orang
Normandie. Iskandar suka jatuh pingsan dan Beaulieu menceritakan bahwa ia
mendapat izin untuk mengambil lada di Tiku pada suatu hari sultan dilihatnya
baru saja sembuh dari salah satu keadaan lemahnya itu. Iskandar boleh disangka
kadang kala bahkan menuruti keinginannya untuk melampaui batas.
· -
Kebesaran Iskandar
Terdapat teks
yang mengungkapkan dengan jelas anggapan mulia Iskandar mengenai peran dan
kekuasaannya, teks tersebut melaporkan semacam pengakuan yang disampaikan
Iskandar kepada Beaulieu dan yang diceritakan kembali dengan setia tanpa
memakai gaya “aku”. Mengungkapkan kesulitan yang pernah ia alami dan masih
tetap dialaminya. Untuk mengakhiri gambaran Iskandar dapat digaris bawahi ia
sering bertuah sampai ke hal-hal yang sepele, sehingga ada yang menghargainya
dan menganggapnya tukang sihir ulung. Tokoh Iskandar kemudia dibesar-besarkan
secara berlebihan seperti lazimnya dongeng. Pastilah ada baiknya menetapkan
dengan tegas batas-batas sejarahnya.
Sumber-sumber:
Penulis :
Denys Lombard
Penerjemah :
Winarsih Arifin
Penerbit :
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun :
2007 (Cetakan Kedua)
Tebal :
408 Halaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar