Kerajaan Nunusaku
1. Kerajaan Nunusaku
Kerajaan
Nunusaku adalah salah satu kerajaan Islam di Maluku. Selain Ternate dan Tidore,
Nunusaku memiliki zamannya ketika mengalami kejayaan. Banyak orang-orang yang
hanya mengetahui tentang kerajaan islam Ternate dan Tidore, sebenarnya masih
banyak lagi kerajaan-kerajaan islam di Maluku. Karena keterbatasan sumber, maka
saya berusaha dengan gigih agar teman-teman dapat memahami kerajaan Nunusaku
dan bermanfaat bagi teman-teman.
Nama Nunusaku
sendiri diambil dari peristiwa yang pernah dialami oleh masyarakatnya, saat itu
masyarakat menemukan gunung yang berbentuk nun sukun dan disekitarnya terdapat
pohon beringin bercabang dua setelah terjadinya banjir bandang. Sehingga dicetuskannya
nama Nunusaku. Kerajaan Nunusaku awal pemerintahannya dipimpin oleh Upu Latu
yang bersifat kepemimpinan tunggal, setelah Upu Latu pertama wafat maka kepemimpinannya
dilanjutkan oleh anaknya yang sulung, dengan gelar Upu Latu Mena. Dibangunlah
sistem pemerintahan Latu yang dibantu oleh Patti.
Sumber yang
saya dapatkan tentang kerajaan ini buram, kabarnya kerajaan Nunusaku tidak
runtuh, pemerintahannya tetap dipimpin oleh seorang Latu dengan
dibantu Patti, menurut sumber yang saya dapat seluruh perangkat
pemerintahannya masih tetap berlanjut hanya kekuasaan pemerintahan berpindah
ke Sahulau. Sahulau adalah kerajaan islam di Maluku yang merupakan kerabat
Nunusaku. Pada pemerintahan kerajaan Sahulau inilah lahir ide-ide brilian
seperti masalah rentang kendali maka dibentuklah kerajaan-kerajaan kecil (provinsi
dan kabupaten) yang dipimpin juga oleh seorang Latu. Masa kejayaan
kerajaan Sahulau berada pada masa pemerintahaan Ina
Latu Kabasaran, seorang wanita cantik dan berwibawa. Gelar kabasaran ini
adalah ucapan orang-orang melayu pada waktu itu. Karena kekuasaan
kerajaan Sahulau sampai ke tanah melayu..
2. Bidang Dakwah Islam
Agama Islam
masuk ke Maluku dibawa oleh Mubaligh dari Jawa jaman Sunan Giri dan dari
Malaya. Raja Maluku yang pertama masuk Islam adalah Sultan Ternate bernama
Marhum pada tahun 1465-1486, atas pengaruh Maulana Husain saudagar dari Jawa. Dakwah
Islam di Maluku menghadapi dua tantangan, yaitu datang dari orang-orang yang
masih animisme dan dari orang Portugis yang mengkristenkan penduduk Maluku.
Sultan Sairun adalah tokoh yang paling keras melawan orang Portugis dan usaha
Kristenisasi di Maluku. Tokoh misi Katholik yang pernah di Maluku ialah
Fransiscus Zaverius tahun 1546. Ia berhasil mengkhatolikkan sebagian dari
penduduk Maluku.
Masuknya Islam
di daerah Maluku Tengah adalah melalui pedagang Islam yang datang dari Jawa
Timur. Pusat Islam di Jawa Timur sesudah runtuhnya Majapahit adalah Gresik.
Dari Gresik datang ulama Islam bersama para pedagang ke Pulau Ambon, dan mereka
semua berpusat di kota pelabuhan Hitu. Jadi, Hitu menjadi pusat penyebaran
Islam pada daerah sekitarnya pada tahun 1500.
Masuknya agama
Islam kepada penduduk Maluku mengakibatkan timbulnya proses Islamisasi. Proses
religius cultural berpengaruh pada bidang politik pemerintahan sehingga timbul
Kerajaan Islam. Islam juga memperkaya hukum adat setempat. Hukum Islam nampak
bergandengan dengan hukum adat. Penggunaan huruf Arab oleh raja-raja,
bangsawan, dan penduduk setempat memperkaya pula bahasa daerah. Dari sudut
kultur, agama Islam ikut pula menentukan corak kebudayaan masyarakat Maluku
yang bercorak Islam.
Pada tahun 1564
telah disepakati suatu perjanjian oleh Portugis dan Ternate. Untuk merayakan
penandatanganan perjanjian ini, Portugis mengundang Sultan Khairun untuk datang
ke kapal Portugis. Sultan Khairun tidak menyukai usaha Kristenisasi oleh orang
Portugis terhadap rakyatnya yang sudah memeluk Islam. Di saat perjamuan di atas
kapal Portugis itu, Sultan Khairun ditikam secara keji oleh salah seorang
pengawal dari Gubernur De Mesquite sehinga beliau tewas.
Setelah
kejadian tersebut putra Sultan Khairun, yaitu Baabullah naik tahta
menggantikannya. Sultan Baabullah (1570-1583) memaklumkan perang kepada
Portugis. Sultan Tidore berdiri di belakang Ternate. Benteng pertahanan
Portugis di Ambon diserbu pasukan Sultan Baabullah sehingga bendera Portugis diturunkan
orang Ternate dan Tidore dari bentengnya. Kemudian benteng Portugis ini dibakar
hingga habis dan orang Portugis yang masih hidup menyingkir ke Malaka.
Sampai tahun
1580, Ternate dengan Sultan Baabullah telah meluaskan kekuasannya ke
pulau-pulau sekelilingnya sehingga membentang dari Pulau Mindanau (Filiphina)
sampai ke Sumbawa (ini dari utara ke selatan) dan dari Irian ke Sulawesi (dari
timur ke barat) termasuk Pulau Buton. Juga Ternate mengirimkan para pendakwah
untuk mengajak masuk Islam kepada Buton, Makassar (Ujung Pandang), dan Gowa di
Sulawesi. Sultan Baabullah meninggal dunia pada tahun 1583.
Masjid sebagai
bangunan-bangunan sakral dari agama Islam mulai dikenal di Maluku meskipun
corak bangunannya itu sendiri mempunyai corak Indonesia dengan atap yang
berunden. Dengan demikian dilihat dari sudut kultur, maka agama Islam turut
menentukan corak kebudayaan di daerah Maluku, yaitu kebudayaan yang bercorak
Islam.
3. Bidang Pendidikan
Raja Maluku
yang terkenal dibidang pendidikan dan dakwah Islam ialah sultan Zainudin Abidin
(1486-1500). Pada masa kerajaan islam di Maluku, pendidikan yang diberikan
kepada generasi ke generasi adalah pendidikan tentang islam. Contohnya tentang
hukum islam, syariat islam, membaca al-quran, dan lain-lain. Maksudnya kegiatan
utama pada saat itu adalah pengislamisasian masyarakat-masyarakat di sekitar
kerajaan. Mereka belum menyepakati tentang pembuatan lembaga-lembaga resmi
pendidikan, tetapi membuka banyak pondok pesantren untuk santri-santri yang
menekuni agama islam.
Pemeluk Islam pertama
adalah Kapiten Nunusaku Kapitan Iho Lussy yang berguru kepada Maulana Zainal
Abidin, setelah Iho Lussy memperoleh ilmu agama Islam yang cukup, maka beliau
pun aktif berdakwah seperti gurunya. Sebagian besar penduduk di daerah Seram
memeluk agama Islam adalah berkat jasa kedua pendakwah ini. Setelah Kapitan Iho
Lussy wafat maka tugas dakwah Islam dilanjutkan oleh anaknya yaitu Muhammad
Lussy. Jadi yang memimpin Kerajaan Sahulau masih keturunan langsung
dari kerajaan Nunusaku.
Pada zaman ini
pendidikan sekuler tidak diutamakan oleh masyarakat Maluku. Mereka kurang mempelari
tentang ilmu-ilmu umum namun konsen pada ilmu-ilmu kerohanian dan agamanya
saja. Pemerintah juga belum memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk
belajar hal-hal yang baru. Secara tidak sadar kegiatan mentrasformasikan
pengetahuan tentang islam ke masyarakat, sama seperti memberikan pendidikan
kepada mereka tetapi perbedaannya pada masa ini pendidikan yang disampaikan
adalah pendidikan tentang keagamaan atau religius.
Sumber-sumber:
http://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/15/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar