1.
Aliran Salafy
Istilah salafy
ini telah digunakan sejak abad pertengahan, tetapi saat ini kalimat ini mengacu
terutama kepada pengikut aliran Islam Sunni modern yang dikenal sebagai Salafiyyah atau Salafisme, yang terkait
pula dengan Wahhabisme untuk sebagian umatnya nama
Wahabi ini dianggap menghina, mereka lebih memilih istilah Salafisme. Mereka memiliki
argumen bahwa Muhammad bin
Abdul Wahhab
tidak mengajarkan agama (aliran) baru dalam pemikiran atau penggambaran diri,
beliau hanya berusaha memurnikan Islam yang telah bercampur dengan adat
istiadat lokal.
Para pengikut
salafy menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sebagai seorang pemikir besar
dalam agama Islam, sebuah fakta yang dikonfirmasikan oleh mereka menutup
ketaatan kepada ajaran doctrinal. Salafy melihat tiga generasi pertama dari
umat Islam, yaitu Muhammad dan para sahabatnya, dan dua generasi berikut setelah mereka,
tabi'in dan taba 'at-tabi'in, sebagai contoh bagaimana Islam harus dilakukan.
Prinsip ini berasal dari aliran Sunni, hadits diberikan kepada Nabi Muhammad.
Pokok ajaran
dari ideologi dasar salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada
waktu masa Muhammad dan para sahabatnya, oleh
karena itu tidak dikehendaki adanya inovasi yang telah ditambahkan pada abad
nanti karena pengaruh adat dan budaya. Paham ideologi Salafi berusaha untuk
menghidupkan kembali praktik Islam yang lebih mirip dengan agama Muhammad
pertama kali berdakwah. Dalam buku yang berjudul Ghazali and The Poetics of
Imagination, karya Ebrahim Moosa, salafisme adalah sebuah gerakan paham politik Islamisme yang mengambil leluhur (salaf) dari
patristik masa awal Islam sebagai paham dasar.
2. Tokoh-tokoh
pemikir aliran Salafy
·
Imam Hanbali
Imam Hanbali adalah
salah seorang tokoh ulama salaf yang mempunyai ciri khas dalam pemikirannya
yaitu lebih menerapkan pendekatan Lafdzi (tekstual) daripada pendekatan ta’wil,
kemudian beliau menyerahkan (tafwidh) makna-makna ayat dan hadits mutasyabihat
kepada Allah dan Rasul-Nya.
·
Ibnu Taimiah
Ibnu Taimiyah merupakan tokoh salaf yang ekstrim
karena kurang memberikan ruang gerak leluasa pada akal. Ia adalah murid yang
muttaqi, wara, zuhud, serta seorang panglima dan penentang bangsa Tartas yang
berani. Ibnu Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat- ayat mutasyabihat.
Menurutnya, ayat atau Hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima
dan diartikan sebagaimana adanya, dengan cacatan tidak men-tajsim-kan, tidak
menyerupakanNya dengan makhluk, dan tidak bertanya-tanya tentang-Nya.
3. Sistem Pemikirannya
Menurut
ibnu Taimiyah, metode aliran Salaf berbeda dengan metode ulama-ulama Islam. Aliran
salaf hanya percaya kepada aqidah-aqidah dan dalil-dalil yang ditunjukkan oleh
nash, karena nash tersebut adalah wahyu yang diturunkan oleh Tuhan kepada Nabi
Muhammad saw. Aliran salaf tidak percaya kepada metode logika rasional yang
asing bagi Islam, karena metode ini tidak terdapat pada masa sahabat dan
tabi’in.
Sumber Rujukan:
Ahmad Bin Hasan “ Fathur Rahman “ Surabaya, Toko Kitab Al-Hidayah, 1322
Hijriah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar