Museum kota Malang tempo doeloe terletak di jalan Gajahmada nomor 2 Malang, tepat dibelakang balai kota Malang. Museum ini dibangun sejak tahun 1996 oleh bapak Dwi Cahyono dan diresmikan pada tanggal 22 Oktober 2012. Walaupun tergolong baru, namun museum ini tergolong terkenal dikalangan mahasiswa sejarah. Museum kota Malang tempo doeloe adalah museum yang mengusung konsep sejarah local. Isinya tentang apapun yang pernah terjadi di Malang, mulai dari jaman praaksara hingga kembali ke Malang yang sekarang.
1. Peninggalan
arsip atau dokumen pada Museum Malang Tempu Doeloe
Pada Museum ini sedikit keberadaan
arsip maupun dokumen yang di pamerkan, dari dokumen-dokumen penting yang
terdapat di museum ini kami lebih tertarik dengan dokumentasi-dokumentasi
gambar pada masa awal kota Malang. Terdapat banyak gambar mengenai kota Malang
sebelum dan sesudah kedatangan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia.
Setiap ruangan keruangan lain memberikan kesan perkembangan yang terjadi di
Malang khususnya dalam aspek pemerintahan.
Jika diwajibkan untuk menyertakan arsip
atau dokumen penting, maka kami akan menunjukkan staadblad pemerintah Hindia
Belanda dalam upaya pembangunan kota Malang dan perubahan nama-nama daerah di
Malang. Kemudian kumpulan buku-buku yang tersusun di dalam lemari kayu di
ruangan transisi antara pendudukan Jepang dengan kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Buku-buku itu menjadi investasi yang luar biasa bagi generasi selanjutnya.
Salah-satu buku tersebut adalah buku sastera karangan pengarang periode
Pujangga Baru.
2. Model
dan bentuk bangunan Museum Kota Malang Tempo Doeloe
Museum kota Malang Tempo Doeloe
memiliki nuansa tersendiri dibandingkan dengan museum-museum pada umumnya.
Desain museum memiliki konsep modern, keunikannya terletak pada tata ruang yang
dibagi sesuai periode waktu. Pembagian periode waktu disesuaikan dengan urutan
sejarah dari kota Malang.
Pertama, adalah jaman purbakala yang
berlangsung sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Terdapat banyak hasil ekskavasi
benda-benda purbakala sebagai jejak-jejak kehidupan manusia purba. Malang
adalah kota yang dihimpit oleh beberapa gunung yaitu gunung Bromo, Semeru,
Kelud dan Arjuno sehingga Malang merupakan suatu kawah atau danau yang sering
dialiri oleh larva dari gunung-gunung tersebut. Sesuai dengan keadaannya Malang
dikenal sebagai daerah subur.
Hasil-hasil ekskavasi purbakala yang
menarik perhatian kami adalah tanduk kerbau purba, dapat dilogika sebesar apa
kerbau purba tersebut. Kemudian fosil kerang yang ditemukan di gunung Kawi. Ini
membuktikan bahwa dulu Malang adalah sebuah danau purba yang amat besar dan
mengeringkan. Hal ini disesuaikan dengan ditemukannya banyak sumber air yang
masih mengalir, misalnya pemandian Ken Dedes.
Memasuki lorong berikutnya kami merasa
dibawa kembali ke jaman kerajaan-kerajaan yang Berjaya di Malang, seperti
kerajaan Kanjuruhan, Singosari, dan Kediri. Pertama kami menjumpai kolam yang
dilengkapi dengan beberapa arca nandhi, ganesha, jaladwara, dan patung lilin
Mpu Barada utusan Prabu Erlangga untuk mengairi sungai Brantas. Didepan kolam
terdapat ilustrasi gua tempat bertapa Ken Arok. Ilustrasi cukup menggambarkan
kondisi Malang pada masa itu. Masuk kelorong selanjutnya masih berhubungan
dengan kerajaan-kerajaan di Malang, dimana terdapat patung lilin Ken Dedes dan
Tunggul Ametung.
Kami masuk pada Periode ketiga Museum
Malang Tempo Doeloe, bagian ini berupa lorong yang dinding-dindingnya dipenuhi
oleh gambar walikota Malang yang pernah menjabat sejak jaman Belanda sampai
sekarang. Selain gambar walikota, juga terdapat gambar bupati yang pernah
menjabat di kota Malang. Keluar dari lorong kami menemukan diorama yang
menggambarkan pemerintahan jaman dahulu lengkapi dengan perhiasan dan koleksi
kuningan. Pada tahun 1767 Belanda datang dan mendirikan benteng di Malang,
sekarang menjadi Rumah Sakit Saipul Anwar. Pada tahun 1821 dipusatkan disekitar
kali Brantas. Pada tahun 1883, Belanda membagi kota Malang menjadi beberapa
distrik dan membangun tata kota juga merapikan nama-nama kota.
Keberadaan Belanda memiliki dampak yang
signifikan dalam pembangunan kota. Pemerintah colonial melakukan pembangunan
gedung-gedung, salah satunya adalah perumahan Ijen yang menjadi kompleks
kediaman orang-orang Belanda yang bergaya arsitektur Kolonial. Pada perumahan
Ijen terdapat gereja Katedral, pemerintah kolonial bahkan melihat potensi kota
Malang sebagai kota wisata, dengan membangun bangunan-bangunan pendukung
wisata, misalnya di Selecta sekarang. Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain
di Indonesia, kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial
Hindia Belanda terutama ketika mulai dioperasikannya jalan kereta api pada
tahun 1897, sehingga kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Ini dibuktikan
dengan dokumentasi yang memenuhi dinding-dinding lorong.
Munculnya pembangunan di daerah-daerah
menyebabkan terjadinya perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi perumahan
dan industri. Kota Malang diresmikan menjadi kota madya oleh pemerintah kolonial
pada 1 April 1914 melalui staadblad no. 297 dikepalai oleh seorang walikota.
Pada tanggal 25 September 1915, Gubernur Jendral Idenburg membentuk panitia
pembangunan industri di Hindia Belanda (Commissie voor de Ontwikkeling der
Fabrieknijverhaid Nederlandsch-Indie). Di kota Malang pemerintah kolonial
membangun industri pabrik gula karena melimpahnya hasil tebu.
Melangkah ke periode selanjutnya yaitu
periode Jepang, diruang tersebut bendera Jepang terpasang dimana-mana, ini
menandakan Jepang telah menguasai Indonesia dan menggeser kedudukan Belanda.
Ditempat tersebut terdapat penjara yang digunakan untuk menahan orang-orang
Belanda lengkap dengan borgol yang beratnya luar biasa. Hal tersebut
menggambarkan betapa sengsaranya para tahan Belanda pada masa itu.
Jepang yang berhasil menguasai
Indonesia mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara berbasis kemiliteran, hal
ini dibuktikan dengan adanya beberapa organisasi militer yang dibentuk oleh
pemerintah Jepang. Dengan didirikannya beberapa organisasi berbasis militer
menjadikan bangsa Indonesia menjadi sengsara karena mereka diwajibkan mengikuti
kegiatan militer dan pendidikan mengalami kemunduran. Hal ini dibuktikan dengan
adanya diorama proses pengajaran tentang terjadinya kesenjangan antara pribumi
dan bangsa Jepang.
Pada ruang berikutnya terdapat diorama
KNIP, berdiri patung lilin Soekarno dan anggota rapat lainnya. Diruangan ini
juga terdapat alat ketik, alat cetak, dan fotokopi yang digunakan untuk
mencetak surat kabar yang digunakan pada waktu itu. Melankah ke ruangan
selanjutnya adalah dibumi hanguskannya kota Malang oleh Jepang untuk
mengilangkan pengaruh pemerintah colonial Hindia Belanda sebelum kedatangan
Jepang. Terdapat sisa-sisa kebakaran yang disebabkan oleh penghangusan segala
sesuatu yang pernah di bangun oleh Belanda. Sejak saat itu Malang harus
membangun kembali kotanya demi bertahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selanjutnya adalah ruangan yang di
desain khusus untuk mengenang sosok presiden pertama kita yaitu Soekarno.
Terdapat patung lilin Soekarno yang berukuran besar, penggambarannya yaitu
sikap tegap dan karismatik. Kemudian juga disertai dengan dokumentasi gambar
soekarno pada masa pemerintahannya. Di ruang tersebut juga terdapat banyak
alat-alat kesenian, misalnya alat music dan lemari kayu yang penuh dengan
tumpukan buku-buku sastera maupun pendidikan.
Melanjutkan perjalanan keperiode
selanjutnya, kami dibawa kembali pada Malang yang sekarang, terdapat diorama
pasar pada masa Malang setelah kemerdekaan juga banyak perlengkapan kesenian
seperti topen, kebaya, alat music, dan lain sebagainya. Setiap bulan Mei
diperingati dengan acara ulang tahun Kota Malang, terdapat banyak perayaan yang
dilakukan oleh masyarakat Malang dalam menyambut pesta ulang tahun kota.
Suasana museum tidak terasa membosankan
dan menyeramkan seperti umumnya museum. Setelah kami berjelajah dimuseum kami
seolah-olah kembali pada setiap zaman dan tentunya kami merasa kagum dengan
tata ruang yang diatur sedemikian rupa yang menurut kami sangat menarik. Museum
ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari museum-musium yang lain.
3. Keterkaitan
Museum Malang Tempo Doeloe dengan mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia
1900-1940 jaman Kebangkitan Nasional dan masa Hindia Belanda
Museum Kota Malang Tempo Doeloe yang diresmikan
pada tanggal 22 Oktober 2012 membuktikan sikap nasionalisme Bapak Dwi Cahyono
yang begitu peduli dengan penemuan-penemuan pada masa Kerajaan Majapahit yang berserakan
tak terurus. Kecintaannya terhadap Malang mendorongnya untuk membangun suatu tempat
yang berisi sejarah Malang dan kepeduliannya terhadap pemuda Indonesia yang
tidak begitu suka atau berminat berkunjung ke Museum untuk mempelajari sejarah
yang ada di Indonesia.
Dengan usaha bapak Dwi Cahyono dalam
menarik simpati pemuda terhadap sejarah local Malang, Bapak Dwi Cahyono
berharap bahwa pemuda sebagai generasi pelurus Mampu menumbuhkan rasa
nasionalisme dan cinta tanah air, hal tersebut dapat tumbuh dengan menyaksikan
diorama yang menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia pada masa lalu,
khususnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Keterkaitan objek ini dengan mata
kuliah Sejarah Nasional Indonesia 1900-1940 adalah ide yang mendorong bapak Dwi
untuk membangun dan mau membiayai museum tersebut untuk melindungi peninggalan
sejarah, terlebih di kota Malang. Kemudian digambarkannya kondisi Malang pada
masa pendudukan pemerintahan Hindia Belanda yang melalukan banyak pembangunan
dan meninggalkan pengaruhnya bagi pemerintahan di Indonesia, khususnya di kota Malang.
4. Dimensional
Museum Malang Tempo Doeloe
Aspek yang paling menonjol dalam konsep
pembangunan Museum ini adalah berdasarkan kekuasaan politik dan kehidupan
sosial. Pembagian periode jaman berlangsung sesuai dengan urutan pemerintahan
yang ada di Malang. Mulai dari kerajaan, pemerintahan colonial Hindia Belanda,
pendudukan Jepang, hingga pada proklamasi dan berlanjut pada kota Malang
sekarang.
Selain itu diorama kehidupan sosial
pada setiap periode digambarkan betul-betul mendekati dengan kondisi
sebenarnya. Hal ini membantu pengunjung khususnya mahasiswa sejarah dapat
melakukan interpretasi melalui penggambaran tersebut. Museum ini memiliki
citarasa yang kuat sehingga mampu membawa kita kembali ke masa-masa yang telah
lampau tanpa mengesampingkan keindahannya.
5. Simpulan
Museum Malang Tempo Doeloe merupakan
salah satu museum yang sangat penting dikunjung karena museum ini tidak hanya
menampilkan tata ruang yang berbeda tetapi museum ini sangat membantu mahasiswa
maupun para pelajar untuk mempelajari sejarah berdirinya kota Malang dan hasil
dari penemuan-penemuan pada masa purba. Walaupun bersifat lokal tetapi dapat
merekrontruksi pengetahuan secara holistik.
Melalui diorama yang disajikan, maka seseorang
akan mudah menggambarkan suasana pada masa itu juga mendorong sikap
nasionalisme dan rasa memiliki sehingga seseorang tersebut akan cenderung
menjaga dan melestarikannya. Isi dari museum ini mampu membuat kami berpikir
bagaimana proses sebuah ide atau gagasan mempengaruhi tindak seseorang dalam
mencapai sesuatu.
Saran dari kami adalah sebaiknya pihak
museum harus menyediakan tour guide yang lebih memahami setiap peristiwa
sejarah yang ditampilkan melalui diorama di museum. Sehingga para pengunjung benar-benar
paham akan setiap peristiwa sejarah yang ditampilkan melalui diorama tersebut.
6. Daftar
Rujukan
Asyiknya Menelusuri Museum Malang Tempo
Doeloe, 2013, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.09 WIB (http://laurentiadewi.com)
Museum Malang Tempo Doeloe, 2012,
diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.30 WIB (http://wikipedia.com)
Berkunjung Museum Malang Tempo Doeloe, 2014, diakses
pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.55 WIB (http://www.pegipegi.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar