Rabu, 03 Februari 2016

Museum Malang Tempo Doeloe


Museum kota Malang tempo doeloe terletak di jalan Gajahmada nomor 2 Malang, tepat dibelakang balai kota Malang. Museum ini dibangun sejak tahun 1996 oleh bapak Dwi Cahyono dan diresmikan pada tanggal 22 Oktober 2012. Walaupun tergolong baru, namun museum ini tergolong terkenal dikalangan mahasiswa sejarah. Museum kota Malang tempo doeloe adalah museum yang mengusung konsep sejarah local. Isinya tentang apapun yang pernah terjadi di Malang, mulai dari jaman praaksara hingga kembali ke Malang yang sekarang.
 
1.      Peninggalan arsip atau dokumen pada Museum Malang Tempu Doeloe
Pada Museum ini sedikit keberadaan arsip maupun dokumen yang di pamerkan, dari dokumen-dokumen penting yang terdapat di museum ini kami lebih tertarik dengan dokumentasi-dokumentasi gambar pada masa awal kota Malang. Terdapat banyak gambar mengenai kota Malang sebelum dan sesudah kedatangan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Setiap ruangan keruangan lain memberikan kesan perkembangan yang terjadi di Malang khususnya dalam aspek pemerintahan.
Jika diwajibkan untuk menyertakan arsip atau dokumen penting, maka kami akan menunjukkan staadblad pemerintah Hindia Belanda dalam upaya pembangunan kota Malang dan perubahan nama-nama daerah di Malang. Kemudian kumpulan buku-buku yang tersusun di dalam lemari kayu di ruangan transisi antara pendudukan Jepang dengan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Buku-buku itu menjadi investasi yang luar biasa bagi generasi selanjutnya. Salah-satu buku tersebut adalah buku sastera karangan pengarang periode Pujangga Baru.

2.      Model dan bentuk bangunan Museum Kota Malang Tempo Doeloe
Museum kota Malang Tempo Doeloe memiliki nuansa tersendiri dibandingkan dengan museum-museum pada umumnya. Desain museum memiliki konsep modern, keunikannya terletak pada tata ruang yang dibagi sesuai periode waktu. Pembagian periode waktu disesuaikan dengan urutan sejarah dari kota Malang.
Pertama, adalah jaman purbakala yang berlangsung sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Terdapat banyak hasil ekskavasi benda-benda purbakala sebagai jejak-jejak kehidupan manusia purba. Malang adalah kota yang dihimpit oleh beberapa gunung yaitu gunung Bromo, Semeru, Kelud dan Arjuno sehingga Malang merupakan suatu kawah atau danau yang sering dialiri oleh larva dari gunung-gunung tersebut. Sesuai dengan keadaannya Malang dikenal sebagai daerah subur.
Hasil-hasil ekskavasi purbakala yang menarik perhatian kami adalah tanduk kerbau purba, dapat dilogika sebesar apa kerbau purba tersebut. Kemudian fosil kerang yang ditemukan di gunung Kawi. Ini membuktikan bahwa dulu Malang adalah sebuah danau purba yang amat besar dan mengeringkan. Hal ini disesuaikan dengan ditemukannya banyak sumber air yang masih mengalir, misalnya pemandian Ken Dedes.
Memasuki lorong berikutnya kami merasa dibawa kembali ke jaman kerajaan-kerajaan yang Berjaya di Malang, seperti kerajaan Kanjuruhan, Singosari, dan Kediri. Pertama kami menjumpai kolam yang dilengkapi dengan beberapa arca nandhi, ganesha, jaladwara, dan patung lilin Mpu Barada utusan Prabu Erlangga untuk mengairi sungai Brantas. Didepan kolam terdapat ilustrasi gua tempat bertapa Ken Arok. Ilustrasi cukup menggambarkan kondisi Malang pada masa itu. Masuk kelorong selanjutnya masih berhubungan dengan kerajaan-kerajaan di Malang, dimana terdapat patung lilin Ken Dedes dan Tunggul Ametung.
Kami masuk pada Periode ketiga Museum Malang Tempo Doeloe, bagian ini berupa lorong yang dinding-dindingnya dipenuhi oleh gambar walikota Malang yang pernah menjabat sejak jaman Belanda sampai sekarang. Selain gambar walikota, juga terdapat gambar bupati yang pernah menjabat di kota Malang. Keluar dari lorong kami menemukan diorama yang menggambarkan pemerintahan jaman dahulu lengkapi dengan perhiasan dan koleksi kuningan. Pada tahun 1767 Belanda datang dan mendirikan benteng di Malang, sekarang menjadi Rumah Sakit Saipul Anwar. Pada tahun 1821 dipusatkan disekitar kali Brantas. Pada tahun 1883, Belanda membagi kota Malang menjadi beberapa distrik dan membangun tata kota juga merapikan nama-nama kota.
Keberadaan Belanda memiliki dampak yang signifikan dalam pembangunan kota. Pemerintah colonial melakukan pembangunan gedung-gedung, salah satunya adalah perumahan Ijen yang menjadi kompleks kediaman orang-orang Belanda yang bergaya arsitektur Kolonial. Pada perumahan Ijen terdapat gereja Katedral, pemerintah kolonial bahkan melihat potensi kota Malang sebagai kota wisata, dengan membangun bangunan-bangunan pendukung wisata, misalnya di Selecta sekarang. Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia, kota Malang tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda terutama ketika mulai dioperasikannya jalan kereta api pada tahun 1897, sehingga kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Ini dibuktikan dengan dokumentasi yang memenuhi dinding-dinding lorong.
Munculnya pembangunan di daerah-daerah menyebabkan terjadinya perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi perumahan dan industri. Kota Malang diresmikan menjadi kota madya oleh pemerintah kolonial pada 1 April 1914 melalui staadblad no. 297 dikepalai oleh seorang walikota. Pada tanggal 25 September 1915, Gubernur Jendral Idenburg membentuk panitia pembangunan industri di Hindia Belanda (Commissie voor de Ontwikkeling der Fabrieknijverhaid Nederlandsch-Indie). Di kota Malang pemerintah kolonial membangun industri pabrik gula karena melimpahnya hasil tebu.
Melangkah ke periode selanjutnya yaitu periode Jepang, diruang tersebut bendera Jepang terpasang dimana-mana, ini menandakan Jepang telah menguasai Indonesia dan menggeser kedudukan Belanda. Ditempat tersebut terdapat penjara yang digunakan untuk menahan orang-orang Belanda lengkap dengan borgol yang beratnya luar biasa. Hal tersebut menggambarkan betapa sengsaranya para tahan Belanda pada masa itu.
Jepang yang berhasil menguasai Indonesia mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara berbasis kemiliteran, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa organisasi militer yang dibentuk oleh pemerintah Jepang. Dengan didirikannya beberapa organisasi berbasis militer menjadikan bangsa Indonesia menjadi sengsara karena mereka diwajibkan mengikuti kegiatan militer dan pendidikan mengalami kemunduran. Hal ini dibuktikan dengan adanya diorama proses pengajaran tentang terjadinya kesenjangan antara pribumi dan bangsa Jepang.
Pada ruang berikutnya terdapat diorama KNIP, berdiri patung lilin Soekarno dan anggota rapat lainnya. Diruangan ini juga terdapat alat ketik, alat cetak, dan fotokopi yang digunakan untuk mencetak surat kabar yang digunakan pada waktu itu. Melankah ke ruangan selanjutnya adalah dibumi hanguskannya kota Malang oleh Jepang untuk mengilangkan pengaruh pemerintah colonial Hindia Belanda sebelum kedatangan Jepang. Terdapat sisa-sisa kebakaran yang disebabkan oleh penghangusan segala sesuatu yang pernah di bangun oleh Belanda. Sejak saat itu Malang harus membangun kembali kotanya demi bertahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selanjutnya adalah ruangan yang di desain khusus untuk mengenang sosok presiden pertama kita yaitu Soekarno. Terdapat patung lilin Soekarno yang berukuran besar, penggambarannya yaitu sikap tegap dan karismatik. Kemudian juga disertai dengan dokumentasi gambar soekarno pada masa pemerintahannya. Di ruang tersebut juga terdapat banyak alat-alat kesenian, misalnya alat music dan lemari kayu yang penuh dengan tumpukan buku-buku sastera maupun pendidikan.
Melanjutkan perjalanan keperiode selanjutnya, kami dibawa kembali pada Malang yang sekarang, terdapat diorama pasar pada masa Malang setelah kemerdekaan juga banyak perlengkapan kesenian seperti topen, kebaya, alat music, dan lain sebagainya. Setiap bulan Mei diperingati dengan acara ulang tahun Kota Malang, terdapat banyak perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Malang dalam menyambut pesta ulang tahun kota.
Suasana museum tidak terasa membosankan dan menyeramkan seperti umumnya museum. Setelah kami berjelajah dimuseum kami seolah-olah kembali pada setiap zaman dan tentunya kami merasa kagum dengan tata ruang yang diatur sedemikian rupa yang menurut kami sangat menarik. Museum ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari museum-musium yang lain.

3.      Keterkaitan Museum Malang Tempo Doeloe dengan mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia 1900-1940 jaman Kebangkitan Nasional dan masa Hindia Belanda
Museum Kota Malang Tempo Doeloe yang diresmikan pada tanggal 22 Oktober 2012 membuktikan sikap nasionalisme Bapak Dwi Cahyono yang begitu peduli dengan penemuan-penemuan pada masa Kerajaan Majapahit yang berserakan tak terurus. Kecintaannya terhadap Malang mendorongnya untuk membangun suatu tempat yang berisi sejarah Malang dan kepeduliannya terhadap pemuda Indonesia yang tidak begitu suka atau berminat berkunjung ke Museum untuk mempelajari sejarah yang ada di Indonesia.
Dengan usaha bapak Dwi Cahyono dalam menarik simpati pemuda terhadap sejarah local Malang, Bapak Dwi Cahyono berharap bahwa pemuda sebagai generasi pelurus Mampu menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air, hal tersebut dapat tumbuh dengan menyaksikan diorama yang menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia pada masa lalu, khususnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Keterkaitan objek ini dengan mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia 1900-1940 adalah ide yang mendorong bapak Dwi untuk membangun dan mau membiayai museum tersebut untuk melindungi peninggalan sejarah, terlebih di kota Malang. Kemudian digambarkannya kondisi Malang pada masa pendudukan pemerintahan Hindia Belanda yang melalukan banyak pembangunan dan meninggalkan pengaruhnya bagi pemerintahan di Indonesia, khususnya di kota Malang.

4.      Dimensional Museum Malang Tempo Doeloe
Aspek yang paling menonjol dalam konsep pembangunan Museum ini adalah berdasarkan kekuasaan politik dan kehidupan sosial. Pembagian periode jaman berlangsung sesuai dengan urutan pemerintahan yang ada di Malang. Mulai dari kerajaan, pemerintahan colonial Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga pada proklamasi dan berlanjut pada kota Malang sekarang.
Selain itu diorama kehidupan sosial pada setiap periode digambarkan betul-betul mendekati dengan kondisi sebenarnya. Hal ini membantu pengunjung khususnya mahasiswa sejarah dapat melakukan interpretasi melalui penggambaran tersebut. Museum ini memiliki citarasa yang kuat sehingga mampu membawa kita kembali ke masa-masa yang telah lampau tanpa mengesampingkan keindahannya.

5.      Simpulan
Museum Malang Tempo Doeloe merupakan salah satu museum yang sangat penting dikunjung karena museum ini tidak hanya menampilkan tata ruang yang berbeda tetapi museum ini sangat membantu mahasiswa maupun para pelajar untuk mempelajari sejarah berdirinya kota Malang dan hasil dari penemuan-penemuan pada masa purba. Walaupun bersifat lokal tetapi dapat merekrontruksi pengetahuan secara holistik.
Melalui diorama yang disajikan, maka seseorang akan mudah menggambarkan suasana pada masa itu juga mendorong sikap nasionalisme dan rasa memiliki sehingga seseorang tersebut akan cenderung menjaga dan melestarikannya. Isi dari museum ini mampu membuat kami berpikir bagaimana proses sebuah ide atau gagasan mempengaruhi tindak seseorang dalam mencapai sesuatu.
Saran dari kami adalah sebaiknya pihak museum harus menyediakan tour guide yang lebih memahami setiap peristiwa sejarah yang ditampilkan melalui diorama di museum. Sehingga para pengunjung benar-benar paham akan setiap peristiwa sejarah yang ditampilkan melalui diorama tersebut.

6.      Daftar Rujukan
Asyiknya Menelusuri Museum Malang Tempo Doeloe, 2013, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.09 WIB (http://laurentiadewi.com)
Museum Malang Tempo Doeloe, 2012, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.30 WIB (http://wikipedia.com)
Berkunjung Museum Malang Tempo Doeloe, 2014, diakses pada tanggal 15 Desember 2015 pukul 22.55 WIB (http://www.pegipegi.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar