Sebulan sekali aku pulang kedesa di mana aku dibesarkan oleh kedua orangtuaku dengan segala bentuk kekangannya. Aku bukanlah anak perempuan satu-satunya dikeluargaku, tapi itulah yg aku rasakan selama 18 tahun disamping bapak selama ini.
Sebelum aku kuliah di luar kota, menurutku Brondong-Paciran bukanlah apa-apa, hanya bagian pesisir kabupaten Lamongan yg kurang indah. Berbeda dengan sekarang, anggapanku berbeda dengan dulu, bukan karena banyak ruko-ruko dibangun, perumahan, dan cafe-cafe..
Tapi nuansa asri dan sepoian angin laut yg menyegarkan, cocok untukku yg terlalu lelah berkubang dalam rutinitas kuliah di kota Pahlawan. Sepanjang perjalanan pulang, aku melewati pepohonan rimbun, alas kering, dan pinggir pantai. Ada ingatan-ingatan masalalu yg membantu memperindah penglihatanku memandang tempat-tempat yg pernah aku kunjungi, entah dengan keluarga, kawan, ataupun someone.
Di dalam bus, aku terus menatap keluar dan lamunanku terbang melampaui ragaku. Aku tertawa kecil jika ingat hal-hal konyol dan nakal yg pernah aku lakukan. Aku memang anak yg sangat nakal, tuman. Tapi aku bangga aku bisa berdiri paling depan untuk mengangkat derajat orangtua meskipun belum satupun permintaan bapak aku mampu penuhi..
Selain ingatan masalaluku, ada hal lain yg membuatku sangat bahagia ketika pulang kedesa. Iya benar, hangat pelukan bapak dan kerinduan kakak, abang, dan aulia. Tak ada yg mampu mengalahkan kehadiran keluarga dihidup kita.
Seperti pada umumnya, anak terakhir sangat disayang oleh keluarganya.. Begitupun aku, walaupun benar keluargaku tidak seutuh pada umumnya, tapi keluargaku mampu menghujaniku limpahan kasih sayang. Itu yg membuatku kuat untuk terus berjuang mendapatkan apa yg aku mau.
Sudah dua minggu aku di Surabaya, dua minggu lagi aku akan pulang kedesa. Semoga kepulanganku membuat orang yg aku sayang bahagia. :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar